Hadis Cabang-cabang Iman
A.
Pendahuluan
Iman merupakan sebuah lafadz yang berasal dari bahasa Arab, yang berupa isim
musytaq dari lafadz aman, yang mempunyai arti kebalikan dari khauf.
Adapun secara istilah, sebagaimana yang telah dipaparkan secara panjang lebar
pada pertemuan sebelumnya, iman berarti mengatakan dengan hati, mempercayai
dengan hati, dan melaksanakan dengan perbuatan.
Dalam pembahasan kali ini terfokuskan pada masalah cabang-cabang iman.
Dalam salah satu hadis nabi Muhammad dikatakan bahwasanya iman terbagi menjadi
70 cabang lebih. Hal ini mengindikasikan adanya tingkatan-tingkatan dalam iman.
B. Redaksi Hadis
Cabang-cabang Iman
1. Shohih Al-Bukhari:9
حدَّثنا عبدُ اللّهِ بنُ محمدٍ قال:
حدثنا أبو عامِرٍ العَقدِيُّ قال: حدثنا سُليمانُ بنُ بلالٍ عنْ عبدِ اللّهِ بنِ
دِينارٍ عنْ أبي صالحٍ عن أبي هُرَيْرةَ رضي اللّهُ عنه عنِ النبيِّ صلى الله عليه
وسلّمقال: «الإِيمانُ بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعْبةً، والحياءُ شُعْبةٌ مِنَ الإِيمان»
Artinya: .....
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih,
atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha
illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan
malu itu termasuk bagian dari iman”
2.
Musnad ImamAhmad: 9250
حدّثنا عبد الله ، حدَّثني أبي،
حدثنا عفان قال: حدثنا حماد بن سلمة قال: أنبانا سهيل بن أبي صالح ، عن عبد الله
بن دينار ، عن أبي صالح ، عن أبي هريرة ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال:
«الإيمان بضع وسبعون باباً، أفضلها لا إله إلا الله، وأدناها إماطة العظم عن
الطريق، والحياء شعبة من الإيمان
Artinya: .....
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Iman itu ada tujuh puluh bagian lebih.
Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling
ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian
dari iman”
3.
Musnad Imam Ahmad: 9609
حدَّثنا عبد الله ، حدَّثني
أبي، حدثنا وكيع قال: حدثنا جعفر بن برقان ، عن يزيد بن الأصم ، عن أبي هريرة قال:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: «الإيمان بضع وسبعون باباً فأدناها إماطة
الأذى عن الطريق وأرفعها قوله: لا إله إلا الله».
Artinya: .....
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Iman itu ada tujuh puluh bagian lebih.
Yang paling rendah yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan yang paling
tinggi adalah perkataan Lâ ilâha illallâh.
A.
B.
C.
Syarah Hadis[1]
Menurut Al Qazzaz berarti bilangan
antara tiga sampai sembilan. Menurut Ibnu Saidah berarti bilangan dari tiga
sampai sepuluh. Sedangkan pendapat yang lain mengartikan, angka antara satu
sampai sembilan, atau dua sampai sepuluh, atau juga empat sampai sembilan.
Tidak terjadi perbedaan kata sittun
pada sanad dari Abu Amir, syaikh Imam Bukhari.
Arti kata syu’batun adalah
potongan, tapi maksud kata tersebut adalahcabang, bagian, atau perangai.
Secara etimologi al-haya’
berarti perubahan yang ada pada diriseseorang karena takut melakukan perbuatan
yang dapat menimbulkan aib. Kata tersebut juga berarti meninggalkan sesuatu
dengan alasan tertentu, atau adanya sebab yang memaksa kita harus meninggalkan sesuatu.
Sedangkan secara terminologi, berarti perangai yang mendorong untuk menjauhi
sesuatu yang buruk dan mencegah untuk tidak memberikan suatu hak kepada
pemiliknya, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, "Malu itu
baik keseluruhannya."
Apabila dikatakan, bahwa
sesungguhnya sifat malu merupakaninsting manusia, lalu bagaimana bisa dikategorikan
sebagai cabang dari iman? Jawabnya, bahwa malu bisa menjadi insting dan bisa
menjadi sebuah prilaku moral, akan tetapi penggunaan rasa malu agar sesuai dengan
jalur syariat membutuhkan usaha, pengetahuan dan niat, maka dari sinilah
dikatakan bahwa malu adalah bagian dari iman, karena maludapat menjadi faktor
stimulus yang melahirkan perbuatan taat dan membentengi diri dari perbuatan
maksiat. Dengan demikain tidak dibenarkan kita mengatakan, "Ya Tuhan
aku malu untuk mengucapkankata kebenaran atau malu untuk melakukan berbuatan
baik, " karena yang seperti ini tidak sesuai dengan syariat. Apabila
ada pendapat yang mengatakan, "Kenapa hanya malu yang disebutkan?"
Jawabnya, karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman
yang lain, sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang
buruk di dunia dan akhirat, sehingga malu dapat berfungsi untuk memerintah dan
menghindari atau mencegah.
Pelajaran yang
dapat diambil
Ibnu Iyad berpendapat, "Semua
orang telah berusaha untukmenentukan cabang atau bagian iman dengan ijtihad.
Karena menentukan hukumnya secara pasti sangat sulit untuk dilakukan. Tetapi
tidak berarti keimanan seseorang akan cacat bila tidak mampu menentukan batasan
tersebut secara terperinci."Orang-orang yang mencoba menghitung semua
cabang tersebut tidak menemukan suatu kesepakatan, tetapi yang mendekati
kebenaran adalah metode yang dikemukakan oleh Ibnu Hibban. Namun hal itu tidak menjelaskannya
secara rinci, hanya saja diringkas apa yang mereka paparkan dan apa yang saya
sebutkan, bahwa iman terbagi menjadi
beberapa cabang, yaitu:
1.
Perbuatan
hati, termasuk keyakinan dan niat. Prilaku hati inimencakup 24 cabang, yaitu:
iman kepada dzat, sifat, keesaan dankekekalan Allah, iman kepada malaikat,
kitab-kitab, Rasul, qadha danqadar, hari Akhir, termasuk juga alam kubur, hari
kebangkitan,dikumpulkannya semua orang di padang mahsyar, hari
perhitungan,perhitungan pahala dan dosa, surga dan neraka. Kemudian
kecintaankepada Allah, kecintaan kepada sesama, kecintan kepada nabi
dankeyakinan akan kebesarannya, shalawat kepada Nabi danmalaksanakan sunnah.
Selanjutnya keikhlasan yang mencakupmeninggalkan riba, kemuna-fikan, taubat,
rasa takut, harapan, syukur,amanah, sabar, ridha terhadap qadha, tawakkal,
rahmah, kerendahanhati, meninggalkan kesombongan, iri, dengki dan amarah.
2.
Perbuatan
lisan yang mencakup tujuh cabang keimanan, yaitumelafalkan tauhid (mengesakan
Allah), membaca Al Qur'an,mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, doa, dzikir dan istighfar(mohon
ampunan) dan menjauhi perkataan-perkataan yang tidakbermanfaat.
3.
Perbuatan
jasmani yang mencakup tiga puluh delapan cabang iman,dengan rincian sebagai
berikut:
a.
Berkenaan
dengan badan, ada lima belas cabang, yaitu: bersuci danmenjahui segala hal yang
najis, menutup aurat, shalat wajib dan sunnah,zakat, membebaskan budak,
dermawan (termasuk memberi makan danmenghormati tamu), puasa wajib dan sunnah,
haji dan umrah, thawaf, i’tikaf, mengupayakan malam qadar (lailatu! qadar), mempertahankanagama
seperti hijrah dari daerah syirik, melaksanakan nadzar danmelaksanakan kafarat.
b.
Berkenaan
dengan orang lain, ada enam cabang, yaitu iffah (menjagakesucian diri)
dengan melaksanakan nikah, menunaikan hak anak dankeluarga, berbakti kepada
orang tua, mendidik anak, silaturrahim, taatkepada pemimpin dan beriemah lembut
kepada pembantu.
c.
Berkenaan
dengan kemaslahatan umum, ada tujuh belas cabang, yaituberlaku adil dalam
memimpin, mengikuti kelompok mayoritas, taatkepada pemimpin, mengadakan ishlah
(perbaikan) seperti memerangipara pembangkang agama, membantu dalam
kebaikan seperti amarma'ruf dan nahi munkar, melaksanakan hukum Allah,
jihad, amanahdalam denda dan hutang serta melaksanakan kewajiban hidup
bertetangga.Kemudian menjaga perangai dan budi pekerti yang baik
dalamberinteraksi dengan sesama seperti mengumpulkan harta dijalan yanghalal,
menginfakkan sebagian hartanya, menjauhi foya-foya dan menghambur-hamburkan
harta, menjawab salam, mendoakan orang yangbersin, tidak menyakiti orang lain,
serius dan tidak suka main-main, sertamenyingkirkan duri di jalanan.
Demikianlah semua cabang keimanantersebut yang jumlahnya kurang lebih menjadi
enam puluh sembilancabang. Pembagian ini dapat dijumlahkan menjadi tujuh puluh
sembilancabang bila sebagian cabang di atas diperincikan kembali secara
mendetail.
D.
Macam-macam atau rincian dari cabang-cabang iman.
Adapun perincian dari cabang-cabang iman, difokuskan
dalam 5 pembahasan atau cabang. Dikarenakan dari kesekian point, kelima inilah
yang menjadi point utama dalam cabang-cabang iman, yang kemudian dikenal dengan
rukun iman. Adapun pembahasan mengenai cabang iman kepada hari akhir akan
dibahas secara terperinci pada pertemuan yang lain.
1.
Iman
Kepada Allah
Iman kepada Allah disini mempunyai maksud bahwasanya orang mukmin
menetapkan adanya Allah, mengakui eksistensi-Nya. Sedangkan kata iman lahu
(mengimani-Nya) berarti taat dan patuh kepada-Nya.[2]
Beriman
kepada Allah dibangun di atas landasan firman Allah swt :
وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ
آمَنَ بِاللَّهِ
“Demikian
pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah.” (Qs. Al Baqarah
285)
Selain itu,
perintah inipun ditetapkan berdasarkan hadist Abu Hurairah dalam kitab Ash-Shahihain yang disepakati
ke-Shahih-annya, yang artinya sebagaimana berikut:“Aku diperintahkan untuk
memerangi manusia sampai mereka mengucapkan, ‘tiada tuhan yang berhak disembah
selain Allah’, siapa yang mengucapkan ‘laa ilaaha’ berarti jiwa dan hartanya
telah terjaga dariku kecuali atas dasar haknya, lalu perhitungannya ada pada
Allah.”
Syahadat adalah kewajiban yang
menggabung antara keyakinan dalam hati dengan pengakuan secara lisan. Adanya
keyakinan dan pengakuan. Kalau keduanya adalah amalan maka harus diamalkan
dengan dua anggota tubuh yang berbeda, sebab jenis amal itu sendiri satu, amal
yang disandarkan kepada hati itu pulalah amal yang disandarkan kepada lidah,
dan yang disandarkan kepada lidah maka itu pula yang disandarkan kepada hati.
Sebagaimana sebuah tulisan yang harus diucapkan maka tulisan itu adalah apa
yang dibaca itulah tulisan itu sendiri.[3]
Amal shalih dengan keyakinan dan
pengakuan dikumpulkan dalam beberapa hal :
a.
Mengakui
Al Bari (Allah) agar terhindar dari sifat ta’hil.
b.
Menetapkan
kemanunggalan Allah agar terhindar dari syirik.
c.
Menetapkan
bahwa Allah bukanlah jauhar bukan pula aradh agar terhindar dari tasybih.
d.
Menetapkan
bahwa wujud selain Allah adalah ma’dum (tiada) sebelum diciptakan agar
terhindar dari teori orang yang mengatakan adanya sebab dan akibat.
e.
Menetapkan
bahwa Allah adalah mudabbir (pengatur) apa yang Dia ciptakan serta
mengarahkan ciptaan itu kemana saja Dia kehendaki agar terhindar dari teori
tentang tabiat atau pengaturan alam oleh bintang-bintang atau para malaikat.
2.
Iman
Kepada Rasul-Rasul Allah
Beriman kepada Rasul dan utusan Allah ditetapkan dalam firman Allah:
وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ
كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
“Demikian pula
orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya
dan rasul-rasul-Nya.” (Qs. Al Baqarah 285)
Selain itu, juga berdasarkan hadis Umar bin Al Khaththab dalam
kitab Ash-Shahihain berupa pertanyaan Jibril tentang iman lalu beliau menjawab,
“Iman itu adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya..”
Cabang kedua dari cabang-cabang dari iman adalah bab iman kepada
rasul-rasul Allah secara yakin dan pengakuan. Hanya saja, iman kepada selain
Nabi kita Muhammad saw hanya sebatas bahwa mereka adalah para utusan Allah
kepada para umat yang disebutkan oleh Allah tempat mereka diutus dan bahwa
mereka semua benar serta berada di jalan yang benar.
Sedangkan iman kepada Nabi Muhammad sebagai Nabi adalah membenarkan
bahwa beliau adalah Nabi dan utusan Allah kepada umat di mana beliau diutus dan
umat-umat setelahnya, baik dari kalangan jin maupun manusia sampai Hari Kiamat.[4]
3.
Beriman
Kepada Malaikat
Beriman kepada malaikat ditetapkan
berdasarkan ayat dan hadist yang telah disebutkan sebelumnya. Cabang iman
ketiga adalah beriman kepada malaikat, yaitu mengandung beberapa makna:
a.
Meyakini
keberadaan mereka.
b.
Menempatkan
mereka sesuai posisi mereka yaitu sebagai hamba Allah dan makhluk-Nya seperti
manusia dan jin yang diperintahkan dan dibebani perintah Allah. Mereka tidak
sanggup melakukan sesuatu kecuali sesuai kemampuan yang diberikan Allah kepada
mereka. Mereka bisa saja mati, tapi Allah menetapkan mereka untuk waktu yang
lama. Jadi, Allah tidak mematikan mereka kecuali kalau tiba waktunya. Mereka
tidak boleh disifati dengan sesuatu yang mengarah pada penyekutuan terhadap
Allah, dan mereka tidak boleh dijadikan sesembahan seperti yang dilakuan para
umat terdahulu.
c.
Mengakui
bahwa di antara mereka ada duta yang diutus oleh Allah kepada siapa saja yang
ia kehendaki daari kalangan manusia. Kadang bisa saja mereka diutus ke kalangan
mereka sendiri. Hal itu diikuti pula dengan pengakuan bahwa di antara mereka
ada yang membawa arsy, ada di antara mereka yang berbaris, ada penjaga surga,
ada penjaga neraka, ada yang mencatat amal, ada yang mengarahkan awan. Semua
itu terdapat dalam al-Qur’an atau paling tidak sebagian besarnya.[5]
Dalam konteks iman kepada mereka secara khusus Allah berfirman :
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا
أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ
وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ
ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Artinya:
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari
Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka
mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang
lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan
kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada
Engkaulah tempat kembali”. (Qs. Al Baqarah 285)
Beriman kepada malaikat pun
ditegaskan dalam hadis yang artinya sebagaimana berikut:
Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia
berkata: Rasulullah saw bersabda, “Malaikat itu diciptakan dari cahaya,
sedangka jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang
didiskripsikan kepada kalian.”
4.
Iman
Kepada Al-Qur’an dan Semua Kitab Suci yang Telah Diturunkan Sebelumnya.
Beriman kepada al-Qur’an dan semua
kitab suci yang telah diturunkan ditetapkan berdasarkan firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ
مِنْ قَبْلُ
“Wahaui
orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah
turunkan sebelumnya.” (Qs. An Nisaa’ 136)
Selain itu, juga ditetapkan juga
berdasarkan ayat dan hadis yang telah disebutkan sebelumnya. Cabang iman
keempat adalah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi kita
Muhammad sawdan semua kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi.
Iman kepada al-Qur’an terbagi dalam
beberapa cabang :
a.
Beriman
bahwa dia adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, bukan
redaksi yang diucapkan oleh Muhammad, bukan pula oleh Jibril.
b.
Percaya
bahwa dia adalah mukjizat yang mana kalaupun manusia dan jin bersatu untuk
membuat tandingannya niscaya mereka tidak akan mampu menandinginya.
c.
Yakin
bahwa al-Qur’an itu adalah semua yang ada di mushaf-mushaf kaum muslimin
setelah wafatnya Nabi. Tidak ada satu huruf pun yang ketinggalan atau terlupa
di dalamnya. Tidak pula dia tercecer lantaran kesalahan penulis mushaf atau matinya seorang penghafal atau bisa
disembunyikan oleh pihak tertentu. Tidak akan berkurang atau bertambah satu
huruf pun.[6]
5.
Beriman
Kepada Takdir Baik dan Takdir Buruk dari Allah.
Beriman kepada Takdir baik dan buruk
ditetapkan berdasarkan firman Allah :
قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
“Katakanlah,
‘Semuanya (datang) dari sisi Allah’.” (Qs. An Nisaa’ 78)
Selain terdapat pada ayat al-Qur’an, beriman kepada Takdir baik dan
buruk ditetapkan juga terdapat dalam hadist :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata: Rasulullah saw
bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah
daripada mukmin yang lemah. Pada diri masing-masing ada kebaikan. Berusahalah
dengan maksimal mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan minta Tolonglah
kepada Allah, serta jangan malas. Kalau kamu mendapat keburukan maka jangn
mengatakan, ‘Allah telah menakdirkandan apa yang Dia inginkan pasti Dia
lakukan.’ Sebab kata ‘seandainya’ itu membuka (pintu untuk) tindakan syaitan.”
Dalam hadist ini terdapat petunjuk bahwa seorang hamba akan diberi
kemudahan berdasarkan takdir dia ciptakan. Kemudahan itu sendiri adalah hak
prerogratif Allah yang tidak boleh ditanya mengapa Dia berbuat demikian, tapi
manusialah yang ditanya tentang perbuatannya . Hal ini mengindikasikan bahwa
manusia beribadah dengan ibadah jenis ini lantaran ada keterkaitan antara
ketakutan mereka secara batin terhadap hal yang tidak tampak di mata mereka.
Sehingga, mereka tidak boleh hanya bersandar pada zhahir amal mereka semata dan
dengan itu mereka berharap akan berakhir dengan sukses.[7]
E. Kesimpulan
Iman memiliki cabang-cabang yang itu tidak disebutkan secara eksplisit oleh
nabi dalam hadisnya. Olehkarenaa itu, para ulama’ muhaditsin mencoba
menginjtihadkan apa saja rincian dari cabang-cabang iman tersebut. Dalam
merinci segaligus mengurutkan dari tingkatan iman yang paling tinggi, hingga
yang paling rendah. Tentunya dalam penyusunannya, beliau memberikan dalil
beserta argumen untuk menguatkan ijtihad beliau. Apa yang telah dilakukan oleh
ulama’-ulama’ terdahulu, dimaksudkan agar umat Islam dapat dengan mudah untuk
memahami bagaimana pengaplikasian iman secara sempurna, sehingga memperoleh
predikat iman yang sempurna pula.
Daftar Pustaka
Ahmad, Abu
Abdullah, 1993, Musnad Al-Imam Ahmad, Beirut: Daru Ahya’i Turats Al-‘Arabi.
Ali,
Abu Al-Fadhl Ahmad bin, 1993, Fathul Bari’ Syarh Shahih Bukhari, Bairut:Darul Fikr.
Asy-Syafi’i,
Imam al-Qawazini, 2011, Ringkasan Syu’ab Al Iman, Jakarta: Pustaka
Azzam.
Ismail, Abu
Abdullah Ahmad bin, 1993, Shahih al-Bukhari, TKP: Daar Ibn Katsir.
Lampiran
قوله: (بضع) بكسرأوله،وحكىالفتحلغة،وهوعددمبهممقيدبمابينالثلاثإلىالتسعكماجزمبهالقزاز.
وقالابنسيده: إلىالعشر. وقيل: منواحدإلىتسعة. وقيل: مناثنينإلىعشرة. وقيلمنأربعةإلىتسعة.
وعنالخليل: البضعالسبع. ويرجحماقالهالقزازمااتفقعليهالمفسرونفيقولهتعالى: {فَلَبِثَفِىٱلسِّجْنِبِضْعَسِنِينَ}
. ومارواهالترمذيبسندصحيحأنقريشاًقالواذلكلأبيبكر،وكذارواهالطبريمرفوعاً،ونقلالصغانيفيالعبابأنهخاصبمادونالعشرةوبمادونالعشرين،فإذاجاوزالعشرينامتنع.
قال: وأجازهأبوزيدفقال: يقالبضعةوعشرونرجلاًوبضعوعشرونامرأة. وقالالفراء: وهوخاصبالعشراتإلىالتسعين،ولايقالبضعومائةولابضعوألف.
ووقعفيبعضالرواياتبضعةبتاءالتأنيثويحتاجإلىتأويل.
قوله: (وستون) لمتختلفالطرقعنأبيعامرشيخشيخالمؤلففيذلك،وتابعهيحيىالحمانيـبكسرالمهملةوتشديدالميمـعنسليمانبنبلال،وأخرجهأبوعوانةمنطريقبشربنعمروعنسليمانبنبلالفقال:
بضعوستونأوبضعوسبعونوكذاوقعالترددفيروايةمسلممنطريقسهيلبنأبيصالحعنعبداللهبندينار،ورواهأصحابالسننالثلاثةمنطريقهفقالوا:
بضعوسبعونمنغيرشك،ولأبيعوانةفيصحيحهمنطريقستوسبعونأوسبعوسبعون،ورجحالبيهقيروايةالبخاريلأنسليمانلميشك،وفيهنظرلماذكرنامنروايةبشربنعمروعنهفترددأيضاًلكنيرجحبأنهالمتيقنوماعداهمشكوكفيه.
وأماروايةالترمذيبلفظأربعوستونفمعلولة،وعلىصحتهالاتخالفروايةالبخاري،وترجيحروايةبضعوسبعونلكونهازيادةثقةـكماذكرهالحليميثمعياضـلايستقيم،إذالذيزادهالميستمرعلىالجزمبها،لاسيمامعاتحادالمخرج.
وبهذايتبينشفوفنظرالبخاري. وقدرجحابنالصلاحالأقللكونهالمتيقن.
قوله: (شعبة) بالضمأيقطعة،والمرادالخصلةأوالجزء.
قوله: (والحياء) هوبالمد،وهوفياللغةتغيروانكساريعتريالإنسانمنخوفمايعاببه،وقديطلقعلىمجردتركالشيءبسبب،والتركإنماهومنلوازمه.
وفيالشرع: خلقيبعثعلىاجتنابالقبيح،ويمنعمنالتقصيرفيحقذيالحقولهذاجاءفيالحديثالآخر:
«الحياءخيركله». فإنقيل: الحياءمنالغرائزفكيفجعلشعبةمنالإيمان؟أجيببأنهقديكونغزيرةوقديكونتخلقاً،ولكناستعمالهعلىوفقالشرعيحتاجإلىاكتسابوعلمونية،فهومنالإيمانلهذا،ولكونهباعثاًعلىفعلالطاعةوحاجزاًعنفعلالمعصية.
ولايقال: ربحياءيمنععنقولالحقأوفعلالخير،لأنذاكليسشرعيَّاً،فإنقيل: لمأفردهبالذكرهنا؟أجيببأنهكالداعيإلىباقيالشعب،إذالحيييخاففضيحةالدنياوالآخرةفيأتمروينزجر،واللهالموفق.
وسيأتيمزيدفيالكلامعنالحياءفي «بابالحياءمنالإيمان»بعدأحدعشرباباً.
)فائدة): قالالقاضيعياض:
تكلفجماعةحصرهذهالشعببطريقالاجتهاد،وفيالحكمبكونذلكهوالمرادصعوبة،ولايقدحعدممعرفةحصرذلكعلىالتفصيلفيالإيمان.
اهـ. ولميتفقمنعدالشعبعلىنمطواحد،وأقربهاإلىالصوابطريقةابنحبان،لكنلمنقفعلىبيانهامنكلامه،وقدلخصتمماأردوه.
ماأذكره،وهوأنهذهالشعبتتفرععنأعمالالقلب،وأعمالاللسان،وأعمالالبدن. فأعمالالقلبفيهالمعتقداتوالنيات،وتشتملعلىأربعوعشرينخصلة:
الإيمانبالله،ويدخلفيهالإيمانبذاتهوصفاتهوتوحيدهبأنهليسكمثلهشيء،واعتقادحدوثمادونه.
والإيمانبملائكته. وكتبه. ورسله. والقدرخيرهوشره. والإيمانباليومالآخر،ويدخلفيهالمسألةفيالقبر،والبعث،والنشور،والحساب،والميزان،والصراط،والجنةوالنار.
ومحبةالله. والحبوالبغضفيه،ومحبةالنبيصلىاللهعليهوسلّمواعتقادتعظيمه،ويدخلفيهالصلاةعليه،واتباعسنته.
والإخلاص،ويدخلفيهتركالرياءوالنفاق،والتوبة. والخوف. والرجاء. والشكر. والوفاء. والصبر.
والرضابالقضاء. والتوكل. والرحمة. والتواضع،ويدخلفيهتوقيرالكبيرورحمةالصغيرة. وتركالكبروالعجب.
وتركالحسدوتركالحقد. وتركالغضب * وأعمالاللسانوتشتملعلىسبعخصال: التلفظبالتوحيد. وتلاوةالقرآن.
وتعلمالعلم. وتعليمه. والدعاء. والذكر،ويدخلفيهالاستغفار. واجتناباللغو * وأعمالالبدنوتشتملعلىثمانوثلاثينخصلة،منهامايختصبالأعيانوهيخمسعشرةخصلة:
التطهيرحساًوحكماً،ويدخلفيهاجتنابالنجاسات. وسترالعورة. والصلاةفرضاًونفلاً. والزكاةكذلك.
وفكالرقاب. والجود،ويدخلفيهإطعامالطعاموإكرامالضيف. والصيامفرضاًونفلاً. والحج،والعمرةكذلك.
والطواف. والاعتكاف. والتماسليلةالقدر. والفراربالدين،ويدخلفيهالهجرةمنجارالشرك. والوفاءبالنذر،والتحريفيالأيمان،وأداءالكفارات.
ومنهامايتعلقبالاتباع،وهيستخصال: التعففبالنكاح،والقيامبحقوقالعيال. وبرالوالدين،وفيهاجتنابالعقوق.
وتربيةالأولاد. وصلةالرحم. وطاعةالسادةأوالرفقبالعبيد. ومنهامايتعلقبالعامة،وهيسبععشرةخصلة:
القيامبالإمرةمعالعدل. ومتابعةالجماعة. وطاعةأوليالأمر. والإصلاحبينالناس،ويدخلفيهقتالالخوارجوالبغاة.
والمعاونةعلىالبر،ويدخلفيهالأمربالمعروفوالنهيعنالمنكر. وإقامةالحدود. والجهاد،ومنهالمرابطة.
وأداءالأمانة،ومنهأداءالخمس. والقرضمعوفائهوإكرامالجار. وحسنالمعاملة،وفيهجمعالمالمنحله.
وإنفاقالمالفيحقه،ومنهتركالتبذيروالإسراف. وردالسلام. وتشميتالعاطس. وكفالأذىعنالناس.
واجتناباللهووإماطةالأذىعنالطريق. فهذهتسعوستونخصلة،ويمكنعدهاتسعاًوسبعينخصلةباعتبارإفرادماضمبعضهإلىبعضمماذكر.
واللهأعلم[8]
[1]Abu Al-Fadhl Ahmad bin Ali, Fathul Bari’ Syarh
Shahih Bukhari, (Bairut:Darul Fikr, 1993), jilid 15, hlm 9490.
[2] Imam
al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2011), hlm. 17.
[3] Imam
al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2011), hlm. 19.
[4] Imam
al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2011), hlm. 27.
[5] Imam
al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2011), hlm. 30-31.
[6] Imam
al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2011), hlm. 34.
[7] Imam al-Qawazini
Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011),
hlm. 45.
[8]Abu Al-Fadhl Ahmad bin Ali, Fathul Bari’ Syarh
Shahih Bukhari, (Bairut:Darul Fikr, 1993), jilid 15, hlm 9490.
Hadis Cabang-Cabang Iman
1. Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
2. Fakultas Dakwah dan Komunikasi
3. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
4. Fakultas Syari'ah dan Hukum
5. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
6. Fakultas Sains dan Teknologi
7. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
8. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
9. Fakultas Pascasarjana
2. Fakultas Dakwah dan Komunikasi
3. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
4. Fakultas Syari'ah dan Hukum
5. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
6. Fakultas Sains dan Teknologi
7. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
8. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
9. Fakultas Pascasarjana
Fakultas-Fakultas yang ada di UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Nama: M. Zia Al-Ayyubi
NIM : 15530057
Jurusan: M. Zia Al-Ayyubi
Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga
NIM : 15530057
Jurusan: M. Zia Al-Ayyubi
Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga
Tentangku
Bagi sebagian orang Jawa, atau mereka
yang akrab dengan budaya Jawa, Satrio Piningit (Satria Piningit)
adalah nama yang sudah tidak asing lagi, bahkan tidak berlebihan kalau
disebut fenomenal, tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh zaman.
Namun bagi mereka yang tidak akrab dengan budaya Jawa, mungkin akan
linglung garuk garuk kepala kagak ngerti, “Apa atau siapa sih Satrio
Piningit itu? Koq sepertinya heboh benar?”
Beruntung sekarang adalah zamannya
internet sehingga dengan mengetik kata kunci maka info tentang Satria
Piningit akan tersedia dalam jumlah berjibum yang tidak ayal akan
membuat pembaca pemula bingung karena terdapat “beragam versi dan misi
dan imaginasi”. Nah inilah yang mebuat topik ini menjadi menarik. Walau
info dan topik ini sudah banyak ditulis, saya tetap memaksakan diri
untuk kembali menuliskannya dengan harapan agar pengunjung blog ini
tambah…….. banyak. Wakakakkk. Bodo koq dipamerin? (pukul kepala
sendiri)
Sekilas tentang Ramalan Jayabaya
Membahas tentang Satria Piningit, mau
tidak mau harus diawali dari kisah tentang Jayabaya. Kenapa? Ya tentu
saja karena Jayabaya adalah sang penulis, pelontar ide awal atau orang
yang meramal kedatangan Satria Piningit. Siapa itu Jayabaya? Beliau
adalah raja Kediri, Jawa Timur 1135-1157 AD, yang sangat terkenal dengan
tepat mampu meramal atau memprediksi kedatangan dari balatentara
Jepang. Pada salah satu kitab karangannya yang berjudul “Pralembang
Joyobhoyo”, salah satu baitnya menyebutkan :
“Orang Jawa akan diperintah oleh orang kulit putih selama 3 abad dan oleh kerdil kuning untuk masa hidup tanaman jagung sebelum kembalinya Ratu Adil:…..”
Ramalan ini ternyata benar dan kedatangan
orang orang kerdil ber-ras kuning dari utara yang dengan tepat diramal
oleh sang Raja akhirnya menjadi akhir dari kekuasaan Belanda di
Nusantara. Jadi tidak bisa dibantah lagi bahwa Jayabaya adalah seorang
raja sekaligus peramal ulun., Selain kitab Pralembang Joyobhoyo di atas,
karya lainnya adalah Serat Joyobhoyo Musoror, Serat Pranitiwekyo, dan
beberapa kitab lainnya.
Ramalan Jayabaya tentang Satrio Piningit
Sekarang kita memasuki topik utamanya.
Jayabaya meramalkan bahwa Satrio Piningit akan menjadi Pemimpin Besar
Nusantara. Sang Kesatria Tersembunyi (Piningit) ini adalah keturunan
Raja Majapahit, ia adalah seorang raja cerdas, jujur dan berprilaku
lurus atau benar. Menurut Jayabaya, dalam perjalanan hidup Satrio
Piningit, ia selalu mengalami kesengsaraan, selalu dipermalukan, sial,
dan “kesapar” (miskin). Oleh karena itu, ia mendapat julukan “Satrio
Wiragung” (The Ksatria Agung). Banyak orang Jawa percaya nubuat
(ramalan) ini.
Ia akan menegakkan keadilan di Nusantara
dan bergelar “Ratu Adil” (bahasa Indonesia: Raja Keadilan, dalam bahasa
Jawa, “Ratu” berarti “Raja” atau “Ratu “). Satrio Piningit tidak akan
menjabat sebagai Kepala Negara, tidak akan dipilih dari pemilihan tapi
memimpin lewat sebuah revolusi besar-besaran. Satrio Piningit tidak
hanya akan memerintah Jawa atau Nusantara tapi juga memerintah dunia.
Dan yang paling menarik adalah ramalan tentang kedatanganya yang
didahului oleh bencana (alam) yang besar.
Kutipan beberapa ayat tentang Satrio Piningit
- 140 Polahe wong Jowo koyo gabah den interi, endi sing bener endi sing sejati, poro topo podho ora wani, podho wedi ngajarake piwulang adi, salah-salah anemahi pati
- Perilaku orang Jawa seperti butiran-butiran padi diatas nampan yang diputar (bulir-bulir padi yg berlarian kesana-kemari saling bertabrakan), mana yang benar mana yang sejati, para pertapa tidak ada yang berani, semua takut mengajarkan ajaran baik, salah-salah bisa mati.
- 141 Banjir bandang ono ngendi-endi, gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni. Gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni, margo wedi kapiyak wadine sopo siro sing sayekti.
- Banjir bandang terjadi dimana-mana, gunung meletus tak terduga, tanpa memberi isyarat sebelumnya. Bencinya sangat mendalam terhadap pendeta (orang pintar/waskita) yg menjalani tirakat tingkat tinggi, karena takut terbongkar rahasia siapa dirinya yang sejati(sebenarnya).
- 159 Selet-selete yen mbhesuk ngancik tutuping Tahun, sinungkalan dhewo wolu, angasto manggalaning ratu, Bakal ono dhewo ngejawantah, apengawak manungsa, apasuryo pindho Bethoro Kresno, awatak Bolodhewo, agegaman Trisulo wedho, jinejer wolak-waliking Zaman, wong nyilih ambhalekake, wong Utang ambhayar , Utang Nyawa bhayar nyowo, Utang wirang nyaur wirang.
- Selambat-lambatnya nanti menginjak tutup tahun, (sinungkalan dhewo wolu, angasto manggalaning ratu = dipimpin 8 dewa, menjabat panglimanya raja = bisa berarti tahun sesuai condro sengkolo). Akan ada dewa menjelma kedunia, berbadan manusia, bermuka seperti Bethara Krisna, berwatak Baladewa, bersenjata Trisula Wedha, sejajar dg terbaliknya zaman, orang pinjam akan mengembalikan, orang hutang akan menyahur, Hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu nyahur malu
- 161 Dunungane ono sikil redhi Lawu sisih wetan, wetane bengawan banyu, adhedukuh pindho Radhen Gatotkoco, Arupa pagupon DORO tundho Tigo, KOYO manungsa angleledho.
- Tempatnya di kaki gunung Lawu sebelah timur, sebelah timurnya sungai (Bengawan) air, berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati bertingkat tiga, seperti manusia yang menggoda.
Ciri-Ciri Kemunculan Satrio Piningit
Kontroversi seputar hadirnya Satrio Piningit atau Ratu Adil belum ada
yang bisa memastikan kebenaran mitos tersebut. Konon Satrio Piningit
atau Ratu Adil bakal memimpin Indonesia sebagai mercusuar dunia --
dimana Indonesia akan mengalami masa kejayaan, kehidupan yang gemah
ripah loh jinawe. Tapi hingga kini kebenaran mitos tersebut belum bisa
terwujud atau dipertanggungjawabkan. Namun demikian untuk menyingkap
'hijab' mitos tersebut kami akan mencoba mengurai misteri Satrio
Piningit atau Ratu Adil tersebut sejauh referensi yang kami ketahui.
Validitas dan kebenaran uraian ini sepenuhnya menjadi hak prerogatif
pembaca. Boleh percaya, boleh tidak, boleh mengumpat-umpat diri sendiri
setelah membaca tulisan ini atau bahkan boleh saja mengharamkan membaca
tulisan ini. Sumonggo.
Konon sebelum Satrio Piningit muncul maka akan terjadi suatu peristiwa yang amat dahsyat dan mengerikan. Goro-goro atau huru-hara yang terjadi secara merata di seluruh belahan bumi. Itulah goro-goro yang keempat atau yang terakhir. Yang pertama adalah peristiwa black September 97 di Makassar. Kedua, kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Ketiga adalah kerusuhan yang muncul di Tunisia, Mesir, Lybia, Yaman, Suriah dan Negara-negara tetangga disekitarnya.
Kerusuhan pertama, kedua dan ketiga pada hakekatnya sama saja hanya luas wilayah cakupannya yang berbeda. Persamaannya adalah kekuatan gaib merasuk ke dalam diri manusia kemudian mengambil alih dan menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan bersama, yaitu menumbangkan penguasa tiran (presiden yang telah lama berkuasa). Penguasa nyata yang menguasai orang banyak (rakyat). Penguasa nyata yang memerintah secara mutlak dan sewenang-wenang kedudukannya sama dengan Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa maka wajib baginya menumbangkan penguasa yang dzalim.
Kerusuhan keempat yang akan terjadi nanti adalah kerusuhan dimana kekuatan gaib bergerak sendiri dan menjadikan manusia, orang perorang sebagai sasaran amuknya. Orang perorang yang dimaksud adalah semua orang yang membiarkan nafsu berkuasa atas dirinya. Penguasa gaib yang menguasai orang perorang (pribadi) disebut Fir’aun dan orang perorang yang memperturutkan hawa nafsunya disebut sebagai pengikut setia dan bala tentara Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa yang telah menenggelamkan Fir’aun dengan semua pengikut setianya (bala tentaranya) di laut merah maka Satrio Piningit juga akan menenggelamkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya di lautan darah. Akan terjadi banjir darah di mana-mana. Sebagian besar penduduk bumi akan mati berdarah-darah.
Sebagaimana laki-laki pada umumnya, Satrio Piningit juga memiliki dua sisi sifat di dalam dirinya yaitu sifat maskulin dan feminim. Sifat maskulinnya tercermin dari sifat dia sebagai seorang lelaki jantan, gagah, perkasa, tak terkalahkan, gigih berjuang mempertahankan kebenaran yang diyakininya meski hanya seorang diri. Meski tidak dominan, Satrio Piningit juga memiliki sifat sebagai orang yang angkuh. Meski tidak punya apa-apa tapi mau dikatakan memiliki segalanya, meski rendah tapi mau dikatakan tinggi, meski miskin tapi mau dikatakan kaya. Meski hanya rakyat biasa mau dikatakan penguasa, meski pembangkang sejati mau dikatakan penurut. Sifat angkuh adalah sifat negatif manusia tapi Satrio Piningit mampu menstransformasi sifat negatif itu menjadi positif. Oleh karena dia merubahnya menjadi positif maka Satrio Piningit menjadikan semua itu sebagai motivasi dirinya agar dia bisa membuktikan kebenarannya bahwa dia memang memiliki segalanya, dia memang kaya, dia memang berkuasa. Dia membangkang kepada orang yang melakukan kesalahan tapi dia menurut kepada orang yang bertindak benar.
Sadar akan dirinya sebagai seorang yatim, Satrio Piningit sejak kecil dikenal sebagai pekerja keras, tidak suka berdiam diri apalagi tidur-tiduran atau bermalas-malasan. Dia tidak suka rutinitas, dia suka dengan perubahan karena itu dia suka dengan tantangan. Semakin besar tantangan semakin dia sukai karena perubahan yang dihasilkan akan lebih banyak meski semua itu harus dia lalui dengan penuh kesabaran. Satrio Piningit adalah seorang penyabar yang terbaik. Dia bisa memperlihatkan senyum simpatiknya meski hatinya tersinggung pahit. Sifat sabar Satrio Piningit hanya kamuflase saja guna menutupi sifatnya yang suka membalas. Siapapun yang menyakitinya akan dibalasnya tanpa ampun melebihi rasa sakit yang pernah dia rasakan. Ini berlaku kepada semua orang tanpa kecuali termasuk saudara sendiri. Konsep keadilan menurut faham Satrio Piningit adalah apabila dia sudah melakukan pembalasan yang setimpal.
Sebagai anak dewa yang lahir dari rahim perempuan Jawa, meskipun dia memiliki sifat sebagai seorang laki-laki maskulin akan tetapi Satrio Piningit memiliki satu kelemahan utama. Kelemahannya inilah yang membuktikan bahwa dia bukan seorang dewa. Satrio Piningit sangat “takut” kepada ibunya. Dia takut tidak masuk syurga, karena kata orang syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Meski ibunya salah tapi dia tetap saja menurut kemudian pelan-pelan merubahnya. Meski ibunya sudah marah besar dengan menghardik dan memukulnya tapi dia tetap diam saja memasang badannya kemudian pelan-pelan dia membuat lawakan kecil agar ibunya tersenyum. Senyum ibunya adalah hadiah terindah bagi dirinya. Satrio Piningit memiliki faham bahwa segala derita ibu saat ia berada di dalam kandungannya dan rasa perih, sakit yang tak terkirakan yang ibu rasakan saat dia dilahirkan harus dibalas dengan cara membuat ibu tersenyum terhadap putera kebanggaannya. Balasan itu sudah cukup setimpal untuk menebus derita dan rasa sakitnya. Akan tetapi menurut faham Satrio Piningit; Air susu ibunya adalah hutang abadi yang tak mungkin bisa terbalaskan sampai kapanpun dengan cara apapun.
Semasa hidupnya, Satrio Piningit senantiasa membaktikan dirinya kepada ibunya. Setelah ibunya meninggal dunia, bakti itu belum berakhir. Bakti Satrio Piningit diaplikasikan kedalam baktinya kepada ibu pertiwi yang didominasi oleh keturunan bangsa-bangsa tanah Jawa sebagai asal muasal leluhur ibunya, leluhur Satrio Piningit.
Saat ini Ibu pertiwi merasakan derita. Bangsa Indonesia menderita. Bencana terjadi dimana-mana. Rakyat susah makan. Rakyat tidak merasa nyaman. Banyak amarah. Banyak kejengkelan. Mungkin juga banyak kebencian. Semua itu ibu pertiwi merasakannya. Ibu pertiwi tidak menangis. Ibu pertiwi tetap sabar, karena ibu pertiwi tahu bahwa dia sedang hamil. Memang segalanya terasa tidak enak, jika ibu tengah mengalami masa ngidamnya. Ibu pertiwi tahu bahwa janin yang ada di dalam kandungannya adalah pemimpin besar dunia. Janin itu masih bersembunyi di dalam kandungan ibu pertiwi. Dia masih terpingit dalam kandungan ibu pertiwi.
Kelak, apabila telah terjadi goro-goro yang amat dahsyat, sakit yang sangat menyakitkan, darah berceceran dimana-mana dan banjir darah maka itulah tandanya, itulah masa Ibu pertiwi melahirkan putera tunggalnya. Putra kebanggaannya. Putera yang diidam-idamkan. Putera yang telah lama dinanti-nantikan. Puteranya itu memiliki nama yang terdiri atas Sembilan huruf zah-aja (sahaja, saja).
Puteranya itu akan memimpin Indonesia dan dunia. Meskipun dia seorang laki-laki tapi dia memiliki gelar ratu adil. Itu disebabkan karena dia memiliki juga sifat feminim, seperti ibu pertiwi yang cantik jelita ini. Sifatnya itu adalah karena dia akan memerintah dengan penuh kelembutan, penuh kasih dan penuh sayang. Bangsa Indonesia akan merasa seperti berada di syurga. Merasa tentram, teduh, damai, segalanya tersedia dan disediakan. Karena itulah bangsa-bangsa lain melirik Indonesia dan ingin tinggal di Indonesia. Dan putera ibu pertiwi akan berkata “datanglah kemari semua, kita wujudkan persatuan kita, persatuan Indonesia. Aku adalah pemimpin kalian dengan mengedepankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Kita semua adalah hamba Tuhan dibawa panji Ketuhanan Yang Maha Esa. Bendera kemerdekaan kita adalah merah putih. Lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Segalanya dan semua yang kalian nikmati ini awalnya dimulai dari orang Jawa, dari tanah Jawa, kemudian menjadi raya disebut Indonesia yang artinya Satu Untuk Semua”.
Dan ibu pertiwi yang cantik jelita dengan keluguannya berkata ”Semua dapat terjadi seperti ini karena puteraku takut tidak masuk syurga. Karena bapaknya adalah dewa maka bapaknya buat syurga di muka bumi ini agar puteraku merasa senang dan bahagia. Kesenangan dan kebahagiaan puteraku adalah kesenangan dan kebahagiaan kita semua. Indonesia, satu untuk semua. Itulah keadilan”.
Zaman Hura-Hura Menuju Masa Huru-Hara
Kapankah terjadinya goro-goro atau huru-hara ?. Meskipun waktunya sudah dekat akan tetapi tidak ada yang bisa memastikan waktu terjadinya. Huru-hara akan terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada tanda-tanda apalagi pertanda yang mendahuluinya sehingga orang-orang tidak akan mungkin bisa melindungi dirinya. Ibarat ibu yang sedang hamil, tidak ada yang bisa memastikan pada saat kapan, jam berapa lewat menit dan detik keberapa ibu itu melahirkan anaknya. Huru-hara terjadi pada malam hari. Semua orang ketakutan. Banyak darah segar berceceran dimana-mana. Mayat-mayat dengan kepala terpenggal tergeletak begitu saja. Mengerikan!.
Sekarang ini adalah jaman edan !. Jaman kebebasan !. Banyak tingkah laku manusia yang aneh-aneh dan lucu-lucu. Inilah jaman hura-hura. Silahkan berhura-hura sebelum datangnya huru-hara. Hura-hura adalah masa kebebasan dan kesenangan manusia, karena itu jin dan syetan dikurung di dalam penjara bawah tanah dan mereka dibiarkan kelaparan. Mereka tidak boleh ikut campur dengan apa yang mau dilakukan oleh manusia. Maksiat merajalela karena manusia suka dan senang melakukannya. Semua orang merasa diri benar padahal salah. Merasa pintar padahal bodoh. Merasa baik padahal jahat. Dianggap dekat dengan Tuhan padahal jauh. Dianggap kuat padahal lemah. Itulah sebabnya sehingga disebut jaman edan!. Keedanan manusia bukan disebabkan oleh karena hasutan atau godaan jin dan syetan akan tetapi murni disebabkan oleh karena manusia menuruti hawa nafsu yang ada didalam dirinya sendiri.
Huru-hara adalah masa kesenangan dan kebebasan jin dan syetan memakan manusia. Mereka akan datang berlarian seperti binatang buas yang lapar!, Menurut faham dan keyakinan Satrio Piningit itulah yang dimaksud dengan “keadilan”. Keadilan harus ditegakkan di bumi ini. Setelah hura-hura maka huru-hara harus terjadi. Keadilan harus tegak di bumi ini sebelum Ratu Adil memerintah.
Konon sebelum Satrio Piningit muncul maka akan terjadi suatu peristiwa yang amat dahsyat dan mengerikan. Goro-goro atau huru-hara yang terjadi secara merata di seluruh belahan bumi. Itulah goro-goro yang keempat atau yang terakhir. Yang pertama adalah peristiwa black September 97 di Makassar. Kedua, kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Ketiga adalah kerusuhan yang muncul di Tunisia, Mesir, Lybia, Yaman, Suriah dan Negara-negara tetangga disekitarnya.
Kerusuhan pertama, kedua dan ketiga pada hakekatnya sama saja hanya luas wilayah cakupannya yang berbeda. Persamaannya adalah kekuatan gaib merasuk ke dalam diri manusia kemudian mengambil alih dan menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan bersama, yaitu menumbangkan penguasa tiran (presiden yang telah lama berkuasa). Penguasa nyata yang menguasai orang banyak (rakyat). Penguasa nyata yang memerintah secara mutlak dan sewenang-wenang kedudukannya sama dengan Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa maka wajib baginya menumbangkan penguasa yang dzalim.
Kerusuhan keempat yang akan terjadi nanti adalah kerusuhan dimana kekuatan gaib bergerak sendiri dan menjadikan manusia, orang perorang sebagai sasaran amuknya. Orang perorang yang dimaksud adalah semua orang yang membiarkan nafsu berkuasa atas dirinya. Penguasa gaib yang menguasai orang perorang (pribadi) disebut Fir’aun dan orang perorang yang memperturutkan hawa nafsunya disebut sebagai pengikut setia dan bala tentara Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa yang telah menenggelamkan Fir’aun dengan semua pengikut setianya (bala tentaranya) di laut merah maka Satrio Piningit juga akan menenggelamkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya di lautan darah. Akan terjadi banjir darah di mana-mana. Sebagian besar penduduk bumi akan mati berdarah-darah.
Sebagaimana laki-laki pada umumnya, Satrio Piningit juga memiliki dua sisi sifat di dalam dirinya yaitu sifat maskulin dan feminim. Sifat maskulinnya tercermin dari sifat dia sebagai seorang lelaki jantan, gagah, perkasa, tak terkalahkan, gigih berjuang mempertahankan kebenaran yang diyakininya meski hanya seorang diri. Meski tidak dominan, Satrio Piningit juga memiliki sifat sebagai orang yang angkuh. Meski tidak punya apa-apa tapi mau dikatakan memiliki segalanya, meski rendah tapi mau dikatakan tinggi, meski miskin tapi mau dikatakan kaya. Meski hanya rakyat biasa mau dikatakan penguasa, meski pembangkang sejati mau dikatakan penurut. Sifat angkuh adalah sifat negatif manusia tapi Satrio Piningit mampu menstransformasi sifat negatif itu menjadi positif. Oleh karena dia merubahnya menjadi positif maka Satrio Piningit menjadikan semua itu sebagai motivasi dirinya agar dia bisa membuktikan kebenarannya bahwa dia memang memiliki segalanya, dia memang kaya, dia memang berkuasa. Dia membangkang kepada orang yang melakukan kesalahan tapi dia menurut kepada orang yang bertindak benar.
Sadar akan dirinya sebagai seorang yatim, Satrio Piningit sejak kecil dikenal sebagai pekerja keras, tidak suka berdiam diri apalagi tidur-tiduran atau bermalas-malasan. Dia tidak suka rutinitas, dia suka dengan perubahan karena itu dia suka dengan tantangan. Semakin besar tantangan semakin dia sukai karena perubahan yang dihasilkan akan lebih banyak meski semua itu harus dia lalui dengan penuh kesabaran. Satrio Piningit adalah seorang penyabar yang terbaik. Dia bisa memperlihatkan senyum simpatiknya meski hatinya tersinggung pahit. Sifat sabar Satrio Piningit hanya kamuflase saja guna menutupi sifatnya yang suka membalas. Siapapun yang menyakitinya akan dibalasnya tanpa ampun melebihi rasa sakit yang pernah dia rasakan. Ini berlaku kepada semua orang tanpa kecuali termasuk saudara sendiri. Konsep keadilan menurut faham Satrio Piningit adalah apabila dia sudah melakukan pembalasan yang setimpal.
Sebagai anak dewa yang lahir dari rahim perempuan Jawa, meskipun dia memiliki sifat sebagai seorang laki-laki maskulin akan tetapi Satrio Piningit memiliki satu kelemahan utama. Kelemahannya inilah yang membuktikan bahwa dia bukan seorang dewa. Satrio Piningit sangat “takut” kepada ibunya. Dia takut tidak masuk syurga, karena kata orang syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Meski ibunya salah tapi dia tetap saja menurut kemudian pelan-pelan merubahnya. Meski ibunya sudah marah besar dengan menghardik dan memukulnya tapi dia tetap diam saja memasang badannya kemudian pelan-pelan dia membuat lawakan kecil agar ibunya tersenyum. Senyum ibunya adalah hadiah terindah bagi dirinya. Satrio Piningit memiliki faham bahwa segala derita ibu saat ia berada di dalam kandungannya dan rasa perih, sakit yang tak terkirakan yang ibu rasakan saat dia dilahirkan harus dibalas dengan cara membuat ibu tersenyum terhadap putera kebanggaannya. Balasan itu sudah cukup setimpal untuk menebus derita dan rasa sakitnya. Akan tetapi menurut faham Satrio Piningit; Air susu ibunya adalah hutang abadi yang tak mungkin bisa terbalaskan sampai kapanpun dengan cara apapun.
Semasa hidupnya, Satrio Piningit senantiasa membaktikan dirinya kepada ibunya. Setelah ibunya meninggal dunia, bakti itu belum berakhir. Bakti Satrio Piningit diaplikasikan kedalam baktinya kepada ibu pertiwi yang didominasi oleh keturunan bangsa-bangsa tanah Jawa sebagai asal muasal leluhur ibunya, leluhur Satrio Piningit.
Saat ini Ibu pertiwi merasakan derita. Bangsa Indonesia menderita. Bencana terjadi dimana-mana. Rakyat susah makan. Rakyat tidak merasa nyaman. Banyak amarah. Banyak kejengkelan. Mungkin juga banyak kebencian. Semua itu ibu pertiwi merasakannya. Ibu pertiwi tidak menangis. Ibu pertiwi tetap sabar, karena ibu pertiwi tahu bahwa dia sedang hamil. Memang segalanya terasa tidak enak, jika ibu tengah mengalami masa ngidamnya. Ibu pertiwi tahu bahwa janin yang ada di dalam kandungannya adalah pemimpin besar dunia. Janin itu masih bersembunyi di dalam kandungan ibu pertiwi. Dia masih terpingit dalam kandungan ibu pertiwi.
Kelak, apabila telah terjadi goro-goro yang amat dahsyat, sakit yang sangat menyakitkan, darah berceceran dimana-mana dan banjir darah maka itulah tandanya, itulah masa Ibu pertiwi melahirkan putera tunggalnya. Putra kebanggaannya. Putera yang diidam-idamkan. Putera yang telah lama dinanti-nantikan. Puteranya itu memiliki nama yang terdiri atas Sembilan huruf zah-aja (sahaja, saja).
Puteranya itu akan memimpin Indonesia dan dunia. Meskipun dia seorang laki-laki tapi dia memiliki gelar ratu adil. Itu disebabkan karena dia memiliki juga sifat feminim, seperti ibu pertiwi yang cantik jelita ini. Sifatnya itu adalah karena dia akan memerintah dengan penuh kelembutan, penuh kasih dan penuh sayang. Bangsa Indonesia akan merasa seperti berada di syurga. Merasa tentram, teduh, damai, segalanya tersedia dan disediakan. Karena itulah bangsa-bangsa lain melirik Indonesia dan ingin tinggal di Indonesia. Dan putera ibu pertiwi akan berkata “datanglah kemari semua, kita wujudkan persatuan kita, persatuan Indonesia. Aku adalah pemimpin kalian dengan mengedepankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Kita semua adalah hamba Tuhan dibawa panji Ketuhanan Yang Maha Esa. Bendera kemerdekaan kita adalah merah putih. Lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Segalanya dan semua yang kalian nikmati ini awalnya dimulai dari orang Jawa, dari tanah Jawa, kemudian menjadi raya disebut Indonesia yang artinya Satu Untuk Semua”.
Dan ibu pertiwi yang cantik jelita dengan keluguannya berkata ”Semua dapat terjadi seperti ini karena puteraku takut tidak masuk syurga. Karena bapaknya adalah dewa maka bapaknya buat syurga di muka bumi ini agar puteraku merasa senang dan bahagia. Kesenangan dan kebahagiaan puteraku adalah kesenangan dan kebahagiaan kita semua. Indonesia, satu untuk semua. Itulah keadilan”.
Zaman Hura-Hura Menuju Masa Huru-Hara
Kapankah terjadinya goro-goro atau huru-hara ?. Meskipun waktunya sudah dekat akan tetapi tidak ada yang bisa memastikan waktu terjadinya. Huru-hara akan terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada tanda-tanda apalagi pertanda yang mendahuluinya sehingga orang-orang tidak akan mungkin bisa melindungi dirinya. Ibarat ibu yang sedang hamil, tidak ada yang bisa memastikan pada saat kapan, jam berapa lewat menit dan detik keberapa ibu itu melahirkan anaknya. Huru-hara terjadi pada malam hari. Semua orang ketakutan. Banyak darah segar berceceran dimana-mana. Mayat-mayat dengan kepala terpenggal tergeletak begitu saja. Mengerikan!.
Sekarang ini adalah jaman edan !. Jaman kebebasan !. Banyak tingkah laku manusia yang aneh-aneh dan lucu-lucu. Inilah jaman hura-hura. Silahkan berhura-hura sebelum datangnya huru-hara. Hura-hura adalah masa kebebasan dan kesenangan manusia, karena itu jin dan syetan dikurung di dalam penjara bawah tanah dan mereka dibiarkan kelaparan. Mereka tidak boleh ikut campur dengan apa yang mau dilakukan oleh manusia. Maksiat merajalela karena manusia suka dan senang melakukannya. Semua orang merasa diri benar padahal salah. Merasa pintar padahal bodoh. Merasa baik padahal jahat. Dianggap dekat dengan Tuhan padahal jauh. Dianggap kuat padahal lemah. Itulah sebabnya sehingga disebut jaman edan!. Keedanan manusia bukan disebabkan oleh karena hasutan atau godaan jin dan syetan akan tetapi murni disebabkan oleh karena manusia menuruti hawa nafsu yang ada didalam dirinya sendiri.
Huru-hara adalah masa kesenangan dan kebebasan jin dan syetan memakan manusia. Mereka akan datang berlarian seperti binatang buas yang lapar!, Menurut faham dan keyakinan Satrio Piningit itulah yang dimaksud dengan “keadilan”. Keadilan harus ditegakkan di bumi ini. Setelah hura-hura maka huru-hara harus terjadi. Keadilan harus tegak di bumi ini sebelum Ratu Adil memerintah.
Menguak Mitos Satrio Piningit dan Ratu Adil
Firman Allah : Sehingga
tatkala ia sampai ditempat terbenam matahari, ia mendapatinya terbenam
di air yang hitam (QS AL-Kahfi (18) :86)
Dewasa ini, banyak orang kafir bodoh yang dengan kebodohannya itu mencoba mengelabuhi orang-orang Islam awam dengan menyanggah ayat diatas sebagai pernyataan yang tidak masuk akal maupun irrasional, sebab kata mereka bagaimana mungkin disebut matahari bisa tenggelam kedalam air, bukankah dia terbit ditimur dan tenggelam dibarat ? dan karenanya ayat al-Qur’an itu menunjukkan kebodohan serta kepalsuannya. Tetapi sebenarnya, seperti yang saya katakan diawalnya, itu hanyalah ucapan orang-orang yang bodoh yang tidak perlu didengarkan, ibarat setan teriak setan.
Dewasa ini, banyak orang kafir bodoh yang dengan kebodohannya itu mencoba mengelabuhi orang-orang Islam awam dengan menyanggah ayat diatas sebagai pernyataan yang tidak masuk akal maupun irrasional, sebab kata mereka bagaimana mungkin disebut matahari bisa tenggelam kedalam air, bukankah dia terbit ditimur dan tenggelam dibarat ? dan karenanya ayat al-Qur’an itu menunjukkan kebodohan serta kepalsuannya. Tetapi sebenarnya, seperti yang saya katakan diawalnya, itu hanyalah ucapan orang-orang yang bodoh yang tidak perlu didengarkan, ibarat setan teriak setan.
Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini. Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam.
Manusia
membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang
mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena
itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, ayat-ayatnya juga ditulis
atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata
manusia. Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah
An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20) atau kemudian dalam kisah
Dzulkarnain pada Surah Al-Kahfi ayat 86 dinyatakan matahari terbenam
diair yang hitam).
Firman Allah : Sehingga tatkala ia sampai ditempat terbenam matahari, ia mendapatinya terbenam di air yang hitam (QS AL-Kahfi (18) :86)
Prof. T.M.
Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Tafsir al-Qur’anul Madjied “An-Nur” Djuz XVI
penerbit Bulan Bintang Djakarta, Cetakan pertama 1964 pada halaman 12
dan 13 menulis :
Maka
Dzulkarnain bermaksud pergi ketempat terbenam matahari lalu iapun
menjalani jalan yang menyampaikannya ketempat matahari terbenam. Hingga
apabila ia telah sampai kebatas pantai dari jurusan matahari terbenam,
dan berhenti dipantai laut Atlantik, diapun melihat matahari seolah-olah
terbenam kedalam laut itu.
Berkata
al-Fachrurrazy dalam tafsirnya : Bumi ini adalah bersifat bola, sedang
matahari bereda dalam falaknya (lintasannya). Sudah nyata diketahui
bahwa tidak ada sesuatu kaum yang duduk dekat matahari. Demikian pula
sudah nyata diketahui bahwa matahari itu jauh lebih besar dari bumi ini.
Maka bagaimana bisa kita pahami bahwa matahari itu masuk kedalam air
dibumi. Oleh karenanya perlulah kita takwilkan firman Allah ini dengan :
setelah Dzulkarnain sampai kebatas benua Afrika sebelah utara, dia
melihat matahari seolah terbenam kedalam air, sedang air itu berwarna
gelap, walaupun sebenarnya tidaklah demikian. Bukankah orang yang
berlayar dilaut melihat matahari terbenam kedalam laut ? Inilah takwil
yang diterangkan oleh Abu ‘Aly al-Djubba’y dalam tafsirnya.
Mengenai
identitas Dzulkarnain sendiri sebagaimana oleh H. Subhan Nurdin dalam
bukunya ” Benarkah Isa & Dajal akan turun ? ” terbitan QultumMedia
cetakan pertama 2006 halaman 179 :
Menurut
versi barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips al-Maqduny
al-yunany ( orang Macedonia, Yunani ). Membangun Iskandariah. Ia juga
murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan
berbagai ekspansi ke India dan menaklukkan Mesir.
Menurut
Asy-Syaukani, pendapat diatas sulit diterima, karena hal ini
mengisyaratkan bahwa Dzulkarnain adalah orang yang kafir, sementara
al-Qur’an menyebutkan dzulkarnain orang yang mendapatkan petunjuk.
Menurut
sejarawan Muslim, Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb al-Himyari atau
Abu Bakar bin Ifraiqisy dari daulah al-Jumairiyah ( 115 SM – 552 SM ).
Kerajaannya disebut at-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (pemilik 2
tanduk) karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk
matahari dibarat sampai Timur.
Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shaleh.
Saya pribadi
berpegang pada pendapat yang terakhir, bahwa Dzulkarnain bukanlah
Iskandar yang Agung atau Alexander The Great yang namanya masuk dalam
jajaran 100 tokoh terkemuka Michael H Hart,. Sebab Alexander The Great
bukan seorang Muslim, tingkah lakunya barbar dan sama sekali tidak
mencerminkan orang yang dekat kepada Tuhan.; Malah lebih jauh saya
berasumsi bahwa Dzulkarnain adalah salah satu tokoh Rasul Allah yang
diberi kekuasaan sebagaimana Daud dan Sulaiman.
