Posted by : ZiaMuhammad
Minggu, 29 Oktober 2017
Nama : M. Zia Al-Ayyubi
NIM : 15530057
Kelas : IAT D
Fak : Ushuluddin
Definisi Hermeunetik
·
Michael N.
Forster
Hermeunetika adalah teori penafsiran,
metodologi penafsiran, sebuah patokan (rules, qowa’id)
Objek: Universal
·
Renauld
Hermeunetika adalah seni interpretasi,
yang meliputi beauty, imagination, freedom of expretion. Maksud dari kebebasan
ini adalah penafsiran yang lebih luas, tidak terikat atau terkukung dalam
sebuah rules (patokan)
·
Kesimpulan
pengertian:
1.
Hermeneune
(pengertian secara luas)
Adalah perbuatan real dalam sebuah
penafsiran yang objeknya berupa teks,
simbol, dan manusia
2.
Hermeneutika
dalam arti sempit.
Adalah ilmu tentang metode
penafsiran. Atau dalam bahasa arab diistilahkan sebagai ulumul qur’an.
Contoh: As-Suyuthi (Al-Itsqan fi
Ulumil Qur’an)
3.
Hermeneutika
filosofis
Adalah pembahasan tentang hal-hal
yang melandasi metode penafsiran dan praktek penafsiran.
Contoh: Pra Pemahaman
4.
Filsafat
Hermeneutik
Adalah pembahasan tentang hakikat
penafsiran secara ontologis.
Contoh: Esensi: manusia menjadi makhluk penafsir.
Sejarah Perkembangan Hermeneutika
·
Mitos
>< Realita
Mitos adalah narasi yang berpengaruh
terhadap masyarakat tertentu pada suatu masa (bukan masalah itu realita atau
bukan)
·
Makna
mitos ada dua: Literal (bahasa, makna dzahir), dan Alegois (istilah, makna
bathin)
·
Hermeneutika
teks mitos (metafora)
Muncul pada zaman Yunani kuno (500
SM). Karya-karya pada zaman itu sulit untuk dipahami, kemudian muncul
pertanyaan dalam benak Plato, Aristoteles, Socrates. Dalam bukunya Aristoteles
(Organon) disebutkan dalam salah satu babnya: “Perl hermenoar” yang artinya
teori penafsiran.
·
Hermeneutika
teks suci
Penafsiran allegons yang dikembangkan dan
dipraktekan.
School of Hermeneutik
(Pembagian Hermeneutik)
·
Palmer
1.
Theoritical
hermeutik (metode)
Tokoh: Schleimacher
2.
Philosophical
Hermeneutik (pondasi penafsiran dan metode, filsafat)
Tokoh: Gadamer
3.
Critical
hermeunetik (praktek)
Signifikasi untuk masyarakat. Dalam
artian mengkontekstualisasikan sebuah teks untuk masyarakat.
Tingkatan/modelnya:
a)
Weak
hermeneutik (biasa)
b)
Midle
hermeneutik (tengah-tengah)
c)
Strong
hermeneutik (kuat)
Penafsir adalah Seorang yang visioner dan revolusioner. Yakni ingin
sekali merubah masyarakat.
·
Menurut
Pak Sahiron, pembagain hermeneutik dalam pemaknaan terhadap teks.
1.
Objektivis.
Tugas Mufassir hanya satu, yakni
memproduksi kembali makna original (makna tarikhi)
Ciri-cirinya:
a)
Anthorial
intention: Apa yang dikehendaki mushonif (muradul mushanif)
b)
Teks milik
mushanif, atau author
c)
Metode:
Linguistik analysis, historical analysis (waktu, latar belakang, dll)
Tokoh: Schleirmacher
Kelemahan: tidak dapan menunjukan konteks pada masa kini.
2.
Subjektivis
Ciri-cirinya:
a)
Signifikasi
(konteks) untuk masa sekarang.
b)
Para
mufassir sangat berperan penting dalam pemaknaaan
c)
Teks milik
mufassir
d)
Metode:
analisa bahasa, ilmu kekinian yang berkembang, variasi banyak.
Kelemahan: pemaksaan terhadap
teks, subjektivitas yang berlebihan.
3.
Objektivis+Subjektivis
Ciri-cirinya:
a)
Pemahaman
sebuah teks adalah sebuah proses. Yakni proses dari penggabungan 2 horizon teks
(Teks horizon, penafsir) dalam waktu bersamaan. Penafsir juga bebas
mengembangkan makna.
Merode: analisa linguistik, analisa sejarah, analisa terhadap
catatan kotemporer.
Tokoh: Gracia, Gadamer
F. Schleirmacher
·
Objektivis:
Reproduksi historis/makna asli/authorical intention (muradul mushanif)
·
Romantisis:
Masa lalu
·
Muradul
mushanif: untuk mendapatkan makna asal yang dimaksud oleh mushanif harus ada
dua:
o
Hermeneutika
Gramatikal (bahasa, teks)
o
Hermeneutika
Psikologis (non-bahasa, di luar teks)
·
Yang perlu
diperhatikan diaspek gramatikal:
1.
Ketika
seseorang menafsirkan sebuah teks bahasa (apapun), harus memperhatikan dan
mengenal bahasa yang dipakai oleh mushonif (author). Dengan ini penafsir harus
mempunyai talenta (kemampuan berbahasa) agar berhasil menafsirkan dengan hasil
yang baik.
2.
Analisis
Sintagmatik
Sebuah analisa untuk mengetahui makna
kata tertentu dengan memperhatikan kata-kata di depan dan di belakangnya.
3.
Hubungan
relasi antara bagian-bagian dan keseluruhan dalam teks yang harus dipahami.
H. G. Gadamer
·
Teori:
1.
Pra
pemahaman (pre-understand)
Segala sesuatu yang ada pada otak
mufasir. Teori ini dimaksudkan untuk mengcounter teory objekivis dari
schleimacher, yang berbunyi: “seorang mufassir harus menghilangkan semua
subjektivitasnya”. Padahal salah satu subjektivitas dari penafsir adalah pra
pemahaman.
Kemudian Gadamer menyebutkan: “tidak
mungkin seorang mufassir menghilangkan subjektivitasnya”. Dalam artian
subjektivitas (pra-pemahaman) harus ada. Tanpa pra pemahaman, seseorang tidak
akan atau tidak mungkin bisa memahami.
Pre-understanding =>
understanding.
2.
Kesadaran
atas keterpengaruhan oleh efektif histori.
Yakni sejarah yang berpengaruh
terhadap penafsiran. Sejarah disini adalah segala sesuatu yang pernah dialami
oleh mufassir, baik itu keilmuan, pengalaman hidup, tradisi, dll.
3.
Fusion of
horison
Penggabungan 2 horison. Yakni horison
teks, dan horison penafsir. Dengan penggabungan ini akan menghasilkan
hermeneutika tengah.
4.
Aplikasi
(meaningful sence)
Pencarian maksud dari teks,
maqashidul qur’an.
·
Fungsi
utama pra pemahaman:
1.
Untuk
berdialog dengan teks.
2.
Membiarkan
teks berbicara (memberikan kesempatan teks untuk memberi informasi). Cara
memberikan kesempatan teks untuk berbicara: “mencari teks lain (dalam Al-Qur’an)
yang mirip.
3.
Andrsheit
Keberadaan teks dengan ada yang di
dalam konteks. Namun bisa jadi sama.
4.
Gleicheit
Kemampuan/kemiripan
Gracia
·
Teks
menurut Gracia dilihat dari 2 aspek:
1. Logika
2. Epistimologi
Teks logika
·
Teks logika
dibagi kembali menjadi dua:
1. Definisi/naturalisasi
2. Takonomi/kategorisasi teks
·
Adapun
definisi, dibagi menjadi 6 bagian:
1. Group of entities
Contoh: 
2. Sign/simbol
Contoh: s, a, y, a. Simbol berarti sesuatu yang memiliki makna untuk
dirinya sendiri.
Jadi huruf s memiliki makna huruf s itu sendiri, dan seterusnya.
3. Selection and arragement (diseleksi dan
disusun)
Contoh yang salah, yang tidak dapat dicerna logika: saya nasi makan.
Yang benar penyusunannya agar dapat dilogika adalah: saya makan nasi.
4. Meaning
Adalah gabungan dari beberapa entitas yang mempunyai arti dan dapat
dipahami.
5. Intention
Adalah maksud dari pengarang, apa yang dikehendaki oleh pengarang
6. Conteks
Teks
epistimologi
·
Adalah
bagaimana seseorang mendapatkan informasi, pengetahuan dari teks.
·
Pembagiannya
ada 3 macam:
1. Understanding
Meliputi 2 hal.
a)
Mental act
(aksi mental)
Ini berada di otak, yang dengan aksi
tersebut (proses), seseorang mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang dimaksud disini
adalah meaning/makna
b)
Pemahaman
itu beragam (variasi), bukan berarti beragam itu salah atau benar. Akan tetapi
variasi ini membuat banyak warna.
2. Interpretation
Meliputi dua hal juga
a)
Ketika
proses tersebut sudah dilisankan atau dituliskan
b)
Harus ada
kolaborasi atau syarat dalam menginterpretasikan teks. Antara lain interpretandum
(teks yang ditafsirkan), dan interpretans (tambahan keterangan).
3. Discerbility
Adalah
ingin menangkan makna asal.
Fungsi Penafsiran
Ada 3 macam:
1. Historical Function
Menangkap makna asli yang dimaksud oleh pengarang teks.
Cara:
a)
Analisis
bahasa (menggunakan lisanul arab)
b)
Intratekstualitas
(menghubungkan dengan ayat lain) => tafsir maudlu’i
c)
Konteks
syarah (asbabun nuzul)
d)
Intertekstualitas
(Al-Qur’an dihubungkan dengan syi’ir atau kitab-kitab sebelumnya)
2. Meaning Function
Makna kekinian, bagaimana agar lafad Al-Qur’an yang 14 abad silam
dapat digunakan pada masa kini.
Memperhatikan maqashidul qur’an, yakni menyesuaikan dnegan
keadaan-keadaan yang ada.
Cara:
a)
Mengecek
tipe ayat
Abdullah Said membagi dalam 5 tingkat:
i.
Ayat-Ayat
yang mengandung nilai wajib (ibadah)
ii.
Ayat-Ayat
yang mengandung nilai kemanusiaan (sosial)
iii.
Ayat-Ayat
yang mengandung nilai proteksi (menjaga nilai-nilai kemanusiaan)
iv.
Ayat-Ayat
yang mengandung nilai implementasi (akibat/hukuman)
v.
Ayat-Ayat
yang mengandung nilai instruktif (perintah dalam rangka mengatasi problem pada
masa nabi)
Nomor 1-3 bersifat universal. Tidak perlu penjelasan yang rinci, dan
rumit. Nomor 4 bersifat kurtural, cara mengetahuinya dengan menganalisa sejarah
dan melihat maqashidus syari’ahnya. Nomor 5 ada sisi kultur budaya dan untuk
mengatasi problem pada masa nabi (sifatnya sesaat)
b)
Penyesuian.
Contoh: masalah gender
c)
Pengaplikasian
3. Dengan menggunakan keilmuan lain (psikologi,
sosiologi, antropologi, dll)
Sifatnya tidak memiliki hubungan yang erat.
Contohnya
yakni ketika menafsirkan sebuah ayat dilihat dari psikologis berdampak apa, dan
seterusnya.
Teori Kebenaran
(Thruth Theory)
Macamnya:
1. Correspondence theory
·
Teori
Korespondensi: Kebenaran itu benar, sesuai pernyataan, fakta, realita. Fakta
disini harus sudah terbukti sesuai. Pernyataan faktual (asumsi) itu bernilai
salah. Akan tetapi akan bernilai benar jika ada bukti/fakta penelitian data
(terbukti)
·
Contoh:
Bumi itu bulat
·
Problem:
apakah segala sesuatu ada fakta
Fakta muncul belakangan, akan tetapi
fakta ada sebelum terjadi
2. Coherrence Theory (kalam khabari)
·
Benar itu
sesuai dengan keyakinan tertentu (agama, mitos, rasional, dll)
Contoh: Ayat tentang surga dan neraka
3. Pragmatisme (kalam insya’i)
·
Pernyataan
dikatakan benar apabila pernyataan tersebut bermanfaat untuk diri dan orang
lain.
·
Contoh:
Perintah, larangan
Komentar Ulama’ Islam tentang
Hermeneutika
·
Hermeneutika
menurut Quraisy Syihab:
1. Kemandirian teks dalam Al-Qur’an itu tidak
lepas dari teks hadis juga (sebagai penjelas ayat tertentu)
2. Teks ayat Al-Qur’an maknanya tidak bersifat
kaku, implikasinya dapat ditafsirkan sesuai dengann batasan-batasan tertentu
3. Penafsir sangat terikat pada kecenderungan apa
yang dibacanya ketika menafsirkan teks.
4. Makna yang otonom, melampaui teks tersebut
(dapat diaplikasikan secara umum)
