Archive for Desember 2012

Bagi sebagian orang Jawa, atau mereka yang akrab dengan budaya Jawa, Satrio   Piningit (Satria Piningit) adalah nama yang sudah tidak asing lagi, bahkan tidak berlebihan kalau disebut  fenomenal, tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh zaman. Namun bagi mereka yang tidak akrab dengan budaya Jawa, mungkin akan  linglung garuk garuk kepala kagak ngerti,  “Apa atau siapa sih Satrio Piningit itu? Koq sepertinya heboh benar?”
Beruntung sekarang adalah zamannya internet sehingga dengan mengetik kata kunci maka info tentang Satria Piningit akan tersedia dalam jumlah berjibum yang tidak ayal akan membuat pembaca pemula bingung karena terdapat “beragam versi dan misi dan imaginasi”. Nah inilah yang mebuat topik ini menjadi menarik. Walau info dan topik ini sudah banyak ditulis, saya tetap memaksakan diri untuk kembali menuliskannya dengan harapan agar pengunjung blog ini tambah…….. banyak. Wakakakkk. Bodo koq dipamerin?  (pukul kepala sendiri)

Sekilas tentang Ramalan Jayabaya

Membahas tentang Satria Piningit, mau tidak mau harus diawali dari kisah tentang Jayabaya. Kenapa? Ya tentu saja karena Jayabaya adalah sang penulis, pelontar ide awal atau orang yang meramal kedatangan Satria Piningit. Siapa itu Jayabaya? Beliau adalah raja Kediri, Jawa Timur 1135-1157 AD, yang sangat terkenal dengan tepat mampu meramal atau memprediksi kedatangan dari balatentara Jepang.  Pada salah satu kitab karangannya yang berjudul “Pralembang Joyobhoyo”,  salah satu baitnya menyebutkan :
“Orang Jawa akan diperintah oleh orang kulit putih selama 3 abad dan oleh kerdil kuning untuk masa hidup tanaman jagung sebelum kembalinya Ratu Adil:…..”
Ramalan ini ternyata benar dan kedatangan orang orang kerdil ber-ras kuning dari utara yang dengan tepat diramal oleh sang Raja akhirnya  menjadi akhir dari kekuasaan Belanda di Nusantara.  Jadi tidak bisa dibantah lagi bahwa Jayabaya adalah seorang raja sekaligus peramal ulun., Selain kitab Pralembang Joyobhoyo di atas, karya lainnya adalah Serat Joyobhoyo Musoror, Serat Pranitiwekyo, dan beberapa kitab lainnya.

Ramalan Jayabaya tentang Satrio Piningit

Sekarang kita memasuki topik utamanya. Jayabaya meramalkan bahwa Satrio Piningit akan menjadi Pemimpin Besar Nusantara. Sang Kesatria Tersembunyi (Piningit) ini adalah keturunan Raja Majapahit, ia adalah seorang raja cerdas, jujur dan berprilaku lurus atau benar.  Menurut Jayabaya, dalam perjalanan hidup Satrio Piningit, ia selalu mengalami kesengsaraan, selalu dipermalukan, sial, dan “kesapar” (miskin). Oleh karena itu, ia mendapat julukan “Satrio Wiragung” (The Ksatria Agung). Banyak orang Jawa percaya nubuat (ramalan) ini.
Ia akan menegakkan keadilan di Nusantara dan bergelar “Ratu Adil” (bahasa Indonesia: Raja Keadilan, dalam bahasa Jawa, “Ratu” berarti “Raja” atau “Ratu “). Satrio Piningit tidak akan menjabat sebagai Kepala Negara, tidak akan dipilih dari pemilihan tapi memimpin lewat sebuah revolusi besar-besaran. Satrio Piningit tidak hanya akan memerintah Jawa atau Nusantara tapi juga memerintah dunia. Dan yang paling menarik adalah ramalan tentang kedatanganya yang didahului oleh bencana (alam) yang besar.
Kutipan beberapa ayat tentang Satrio Piningit
  • 140 Polahe wong Jowo koyo gabah den interi, endi sing bener endi sing sejati, poro topo podho ora wani, podho wedi ngajarake piwulang adi, salah-salah anemahi pati
  • Perilaku orang Jawa seperti butiran-butiran padi diatas nampan yang diputar (bulir-bulir padi yg berlarian kesana-kemari saling bertabrakan), mana yang benar mana yang sejati, para pertapa tidak ada yang berani, semua takut mengajarkan ajaran baik, salah-salah bisa mati.
  • 141 Banjir bandang ono ngendi-endi, gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni. Gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni, margo wedi kapiyak wadine sopo siro sing sayekti.
  • Banjir bandang terjadi dimana-mana, gunung meletus tak terduga, tanpa memberi isyarat sebelumnya. Bencinya sangat mendalam terhadap pendeta (orang pintar/waskita) yg menjalani tirakat tingkat tinggi, karena takut terbongkar rahasia siapa dirinya yang sejati(sebenarnya).
  • 159 Selet-selete yen mbhesuk ngancik tutuping Tahun, sinungkalan dhewo wolu, angasto manggalaning ratu, Bakal ono dhewo ngejawantah, apengawak manungsa, apasuryo pindho Bethoro Kresno, awatak Bolodhewo, agegaman Trisulo wedho, jinejer wolak-waliking Zaman, wong nyilih ambhalekake, wong Utang ambhayar , Utang Nyawa bhayar nyowo, Utang wirang nyaur wirang.
  • Selambat-lambatnya nanti menginjak tutup tahun, (sinungkalan dhewo wolu, angasto manggalaning ratu = dipimpin 8 dewa, menjabat panglimanya raja = bisa berarti tahun sesuai condro sengkolo). Akan ada dewa menjelma kedunia, berbadan manusia, bermuka seperti Bethara Krisna, berwatak Baladewa, bersenjata Trisula Wedha, sejajar dg terbaliknya zaman, orang pinjam akan mengembalikan, orang hutang akan menyahur, Hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu nyahur malu
  • 161 Dunungane ono sikil redhi Lawu sisih wetan, wetane bengawan banyu, adhedukuh pindho Radhen Gatotkoco, Arupa pagupon DORO tundho Tigo, KOYO manungsa angleledho.
  • Tempatnya di kaki gunung Lawu sebelah timur, sebelah timurnya sungai (Bengawan) air, berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati bertingkat tiga, seperti manusia yang menggoda.

Ciri-Ciri Kemunculan Satrio Piningit

Posted by : ZiaMuhammad 12 Comments
Kontroversi seputar hadirnya Satrio Piningit atau Ratu Adil belum ada yang bisa memastikan kebenaran mitos tersebut. Konon Satrio Piningit atau Ratu Adil bakal memimpin Indonesia sebagai mercusuar dunia -- dimana Indonesia akan mengalami masa kejayaan, kehidupan yang gemah ripah loh jinawe. Tapi hingga kini kebenaran mitos tersebut  belum bisa terwujud atau dipertanggungjawabkan. Namun demikian untuk menyingkap 'hijab' mitos tersebut kami akan mencoba mengurai misteri Satrio Piningit atau Ratu Adil tersebut sejauh referensi yang kami ketahui. Validitas dan kebenaran uraian ini sepenuhnya menjadi hak prerogatif pembaca. Boleh percaya, boleh tidak, boleh mengumpat-umpat diri sendiri setelah membaca tulisan ini atau bahkan boleh saja mengharamkan membaca tulisan ini. Sumonggo.
Konon sebelum Satrio Piningit muncul maka akan terjadi suatu peristiwa yang amat dahsyat dan mengerikan. Goro-goro atau huru-hara yang terjadi secara merata di seluruh belahan bumi. Itulah goro-goro yang keempat atau yang terakhir. Yang pertama adalah peristiwa black September 97 di Makassar. Kedua, kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Ketiga adalah kerusuhan yang muncul di Tunisia, Mesir, Lybia, Yaman, Suriah dan Negara-negara tetangga disekitarnya.
Kerusuhan pertama, kedua dan ketiga pada hakekatnya sama saja hanya luas wilayah cakupannya yang berbeda. Persamaannya adalah kekuatan gaib merasuk ke dalam diri manusia kemudian mengambil alih dan menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan bersama, yaitu menumbangkan penguasa tiran (presiden yang telah lama berkuasa). Penguasa nyata yang menguasai orang banyak (rakyat). Penguasa nyata yang memerintah secara mutlak dan sewenang-wenang kedudukannya sama dengan Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa maka wajib baginya menumbangkan penguasa yang dzalim.
Kerusuhan keempat yang akan terjadi nanti adalah kerusuhan dimana kekuatan gaib bergerak sendiri dan menjadikan manusia, orang perorang sebagai sasaran amuknya. Orang perorang yang dimaksud adalah semua orang yang membiarkan nafsu berkuasa atas dirinya. Penguasa gaib yang menguasai orang perorang (pribadi) disebut Fir’aun dan orang perorang yang memperturutkan hawa nafsunya disebut sebagai pengikut setia dan bala tentara Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa yang telah menenggelamkan Fir’aun dengan semua pengikut setianya (bala tentaranya) di laut merah maka Satrio Piningit juga akan menenggelamkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya di lautan darah. Akan terjadi banjir darah di mana-mana. Sebagian besar penduduk bumi akan mati berdarah-darah.
Sebagaimana laki-laki pada umumnya, Satrio Piningit juga memiliki dua sisi sifat di dalam dirinya yaitu sifat maskulin dan feminim. Sifat maskulinnya tercermin dari sifat dia sebagai seorang lelaki jantan, gagah, perkasa, tak terkalahkan, gigih berjuang mempertahankan kebenaran yang diyakininya meski hanya seorang diri. Meski tidak dominan, Satrio Piningit juga memiliki sifat sebagai orang yang angkuh. Meski tidak punya apa-apa tapi mau dikatakan memiliki segalanya, meski rendah tapi mau dikatakan tinggi, meski miskin tapi mau dikatakan kaya. Meski hanya rakyat biasa mau dikatakan penguasa, meski pembangkang sejati mau dikatakan penurut. Sifat angkuh adalah sifat negatif manusia tapi Satrio Piningit mampu menstransformasi sifat negatif itu menjadi positif. Oleh karena dia merubahnya menjadi positif maka Satrio Piningit menjadikan semua itu sebagai motivasi dirinya agar dia bisa membuktikan kebenarannya bahwa dia memang memiliki segalanya, dia memang kaya, dia memang berkuasa. Dia membangkang kepada orang yang melakukan kesalahan tapi dia menurut kepada orang yang bertindak benar.
Sadar akan dirinya sebagai seorang yatim, Satrio Piningit sejak kecil dikenal sebagai pekerja keras, tidak suka berdiam diri apalagi tidur-tiduran atau bermalas-malasan. Dia tidak suka rutinitas, dia suka dengan perubahan karena itu dia suka dengan tantangan. Semakin besar tantangan semakin dia sukai karena perubahan yang dihasilkan akan lebih banyak meski semua itu harus dia lalui dengan penuh kesabaran. Satrio Piningit adalah seorang penyabar yang terbaik. Dia bisa memperlihatkan senyum simpatiknya meski hatinya tersinggung pahit. Sifat sabar Satrio Piningit hanya kamuflase saja guna menutupi sifatnya yang suka membalas. Siapapun yang menyakitinya akan dibalasnya tanpa ampun melebihi rasa sakit yang pernah dia rasakan. Ini berlaku kepada semua orang tanpa kecuali termasuk saudara sendiri. Konsep keadilan menurut faham Satrio Piningit adalah apabila dia sudah melakukan pembalasan yang setimpal.
Sebagai anak dewa yang lahir dari rahim perempuan Jawa, meskipun dia memiliki sifat sebagai seorang laki-laki maskulin akan tetapi Satrio Piningit memiliki satu kelemahan utama. Kelemahannya inilah yang membuktikan bahwa dia bukan seorang dewa. Satrio Piningit sangat “takut” kepada ibunya. Dia takut tidak masuk syurga, karena kata orang syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Meski ibunya salah tapi dia tetap saja menurut kemudian pelan-pelan merubahnya. Meski ibunya sudah marah besar dengan menghardik dan memukulnya tapi dia tetap diam saja memasang badannya kemudian pelan-pelan dia membuat lawakan kecil agar ibunya tersenyum. Senyum ibunya adalah hadiah terindah bagi dirinya. Satrio Piningit memiliki faham bahwa segala derita ibu saat ia berada di dalam kandungannya dan rasa perih, sakit yang tak terkirakan yang ibu rasakan saat dia dilahirkan harus dibalas dengan cara membuat ibu tersenyum terhadap putera kebanggaannya. Balasan itu sudah cukup setimpal untuk menebus derita dan rasa sakitnya. Akan tetapi menurut faham Satrio Piningit; Air susu ibunya adalah hutang abadi yang tak mungkin bisa terbalaskan sampai kapanpun dengan cara apapun.
Semasa hidupnya, Satrio Piningit senantiasa membaktikan dirinya kepada ibunya. Setelah ibunya meninggal dunia, bakti itu belum berakhir. Bakti Satrio Piningit diaplikasikan kedalam baktinya kepada ibu pertiwi yang didominasi oleh keturunan bangsa-bangsa tanah Jawa sebagai asal muasal leluhur ibunya, leluhur Satrio Piningit.
Saat ini Ibu pertiwi merasakan derita. Bangsa Indonesia menderita. Bencana terjadi dimana-mana. Rakyat susah makan. Rakyat tidak merasa nyaman. Banyak amarah. Banyak kejengkelan. Mungkin juga banyak kebencian. Semua itu ibu pertiwi merasakannya. Ibu pertiwi tidak menangis. Ibu pertiwi tetap sabar, karena ibu pertiwi tahu bahwa dia sedang hamil. Memang segalanya terasa tidak enak, jika ibu tengah mengalami masa ngidamnya. Ibu pertiwi tahu bahwa janin yang ada di dalam kandungannya adalah pemimpin besar dunia. Janin itu masih bersembunyi di dalam kandungan ibu pertiwi. Dia masih terpingit dalam kandungan ibu pertiwi.
Kelak, apabila telah terjadi goro-goro yang amat dahsyat, sakit yang sangat menyakitkan, darah berceceran dimana-mana dan banjir darah maka itulah tandanya, itulah masa Ibu pertiwi melahirkan putera tunggalnya. Putra kebanggaannya. Putera yang diidam-idamkan. Putera yang telah lama dinanti-nantikan. Puteranya itu memiliki nama yang terdiri atas Sembilan huruf zah-aja (sahaja, saja).
Puteranya itu akan memimpin Indonesia dan dunia. Meskipun dia seorang laki-laki tapi dia memiliki gelar ratu adil. Itu disebabkan karena dia memiliki juga sifat feminim, seperti ibu pertiwi yang cantik jelita ini. Sifatnya itu adalah karena dia akan memerintah dengan penuh kelembutan, penuh kasih dan penuh sayang. Bangsa Indonesia akan merasa seperti berada di syurga. Merasa tentram, teduh, damai, segalanya tersedia dan disediakan. Karena itulah bangsa-bangsa lain melirik Indonesia dan ingin tinggal di Indonesia. Dan putera ibu pertiwi akan berkata “datanglah kemari semua, kita wujudkan persatuan kita, persatuan Indonesia. Aku adalah pemimpin kalian dengan mengedepankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Kita semua adalah hamba Tuhan dibawa panji Ketuhanan Yang Maha Esa. Bendera kemerdekaan kita adalah merah putih. Lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Segalanya dan semua yang kalian nikmati ini awalnya dimulai dari orang Jawa, dari tanah Jawa, kemudian menjadi raya disebut Indonesia yang artinya Satu Untuk Semua”.
Dan ibu pertiwi yang cantik jelita dengan keluguannya berkata ”Semua dapat terjadi seperti ini karena puteraku takut tidak masuk syurga. Karena bapaknya adalah dewa maka bapaknya buat syurga di muka bumi ini agar puteraku merasa senang dan bahagia. Kesenangan dan kebahagiaan puteraku adalah kesenangan dan kebahagiaan kita semua. Indonesia, satu untuk semua. Itulah keadilan”.
Zaman Hura-Hura Menuju Masa Huru-Hara
Kapankah terjadinya goro-goro atau huru-hara ?. Meskipun waktunya sudah dekat akan tetapi tidak ada yang bisa memastikan waktu terjadinya. Huru-hara akan terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada tanda-tanda apalagi pertanda yang mendahuluinya sehingga orang-orang tidak akan mungkin bisa melindungi dirinya. Ibarat ibu yang sedang hamil, tidak ada yang bisa memastikan pada saat kapan, jam berapa lewat menit dan detik keberapa ibu itu melahirkan anaknya. Huru-hara terjadi pada malam hari. Semua orang ketakutan. Banyak darah segar berceceran dimana-mana. Mayat-mayat dengan kepala terpenggal tergeletak begitu saja. Mengerikan!.
Sekarang ini adalah jaman edan !. Jaman kebebasan !. Banyak tingkah laku manusia yang aneh-aneh dan lucu-lucu. Inilah jaman hura-hura. Silahkan berhura-hura sebelum datangnya huru-hara. Hura-hura adalah masa kebebasan dan kesenangan manusia, karena itu jin dan syetan dikurung di dalam penjara bawah tanah dan mereka dibiarkan kelaparan. Mereka tidak boleh ikut campur dengan apa yang mau dilakukan oleh manusia. Maksiat merajalela karena manusia suka dan senang melakukannya. Semua orang merasa diri benar padahal salah. Merasa pintar padahal bodoh. Merasa baik padahal jahat. Dianggap dekat dengan Tuhan padahal jauh. Dianggap kuat padahal lemah. Itulah sebabnya sehingga disebut jaman edan!. Keedanan manusia bukan disebabkan oleh karena hasutan atau godaan jin dan syetan akan tetapi murni disebabkan oleh karena manusia menuruti hawa nafsu yang ada didalam dirinya sendiri.
Huru-hara adalah masa kesenangan dan kebebasan jin dan syetan memakan manusia. Mereka akan datang berlarian seperti binatang buas yang lapar!, Menurut faham dan keyakinan Satrio Piningit itulah yang dimaksud dengan “keadilan”. Keadilan harus ditegakkan di bumi ini. Setelah hura-hura maka huru-hara harus terjadi. Keadilan harus tegak di bumi ini sebelum Ratu Adil memerintah.

Menguak Mitos Satrio Piningit dan Ratu Adil

Posted by : ZiaMuhammad 0 Comments
Firman Allah : Sehingga tatkala ia sampai ditempat terbenam matahari, ia mendapatinya terbenam di air yang hitam (QS AL-Kahfi (18) :86)
Dewasa ini, banyak orang kafir bodoh yang dengan kebodohannya itu mencoba mengelabuhi orang-orang Islam awam dengan menyanggah ayat diatas sebagai pernyataan yang tidak masuk akal maupun irrasional, sebab kata mereka bagaimana mungkin disebut matahari bisa tenggelam kedalam air, bukankah dia terbit ditimur dan tenggelam dibarat ? dan karenanya ayat al-Qur’an itu menunjukkan kebodohan serta kepalsuannya. Tetapi sebenarnya, seperti yang saya katakan diawalnya, itu hanyalah ucapan orang-orang yang bodoh yang tidak perlu didengarkan, ibarat setan teriak setan.

Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini. Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam.
Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, ayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia. Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20) atau kemudian dalam kisah Dzulkarnain pada Surah Al-Kahfi ayat 86 dinyatakan matahari terbenam diair yang hitam).
Ilustrasi cerita Dzulkarnain dalam al-Qur\'an
Firman Allah : Sehingga tatkala ia sampai ditempat terbenam matahari, ia mendapatinya terbenam di air yang hitam (QS AL-Kahfi (18) :86)
Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Tafsir al-Qur’anul Madjied “An-Nur” Djuz XVI penerbit Bulan Bintang Djakarta, Cetakan pertama 1964 pada halaman 12 dan 13 menulis :
Maka Dzulkarnain bermaksud pergi ketempat terbenam matahari lalu iapun menjalani jalan yang menyampaikannya ketempat matahari terbenam. Hingga apabila ia telah sampai kebatas pantai dari jurusan matahari terbenam, dan berhenti dipantai laut Atlantik, diapun melihat matahari seolah-olah terbenam kedalam laut itu.
Berkata al-Fachrurrazy dalam tafsirnya : Bumi ini adalah bersifat bola, sedang matahari bereda dalam falaknya (lintasannya). Sudah nyata diketahui bahwa tidak ada sesuatu kaum yang duduk dekat matahari. Demikian pula sudah nyata diketahui bahwa matahari itu jauh lebih besar dari bumi ini. Maka bagaimana bisa kita pahami bahwa matahari itu masuk kedalam air dibumi. Oleh karenanya perlulah kita takwilkan firman Allah ini dengan : setelah Dzulkarnain sampai kebatas benua Afrika sebelah utara, dia melihat matahari seolah terbenam kedalam air, sedang air itu berwarna gelap, walaupun sebenarnya tidaklah demikian. Bukankah orang yang berlayar dilaut melihat matahari terbenam kedalam laut ? Inilah takwil yang diterangkan oleh Abu ‘Aly al-Djubba’y dalam tafsirnya.
Mengenai identitas Dzulkarnain sendiri sebagaimana oleh H. Subhan Nurdin dalam bukunya ” Benarkah Isa & Dajal akan turun ? ” terbitan QultumMedia cetakan pertama 2006 halaman 179 :
Menurut versi barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips al-Maqduny al-yunany ( orang Macedonia, Yunani ). Membangun Iskandariah. Ia juga murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan berbagai ekspansi ke India dan menaklukkan Mesir.
Menurut Asy-Syaukani, pendapat diatas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan bahwa Dzulkarnain adalah orang yang kafir, sementara al-Qur’an menyebutkan dzulkarnain orang yang mendapatkan petunjuk.
Menurut sejarawan Muslim, Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb al-Himyari atau Abu Bakar bin Ifraiqisy dari daulah al-Jumairiyah ( 115 SM – 552 SM ). Kerajaannya disebut at-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (pemilik 2 tanduk) karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari dibarat sampai Timur.
Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shaleh.
Saya pribadi berpegang pada pendapat yang terakhir, bahwa Dzulkarnain bukanlah Iskandar yang Agung atau Alexander The Great yang namanya masuk dalam jajaran 100 tokoh terkemuka Michael H Hart,. Sebab Alexander The Great bukan seorang Muslim, tingkah lakunya barbar dan sama sekali tidak mencerminkan orang yang dekat kepada Tuhan.; Malah lebih jauh saya berasumsi bahwa Dzulkarnain adalah salah satu tokoh Rasul Allah yang diberi kekuasaan sebagaimana Daud dan Sulaiman.

Dzul Qurnain (Raja 2 Tanduk)

Posted by : ZiaMuhammad 0 Comments

- Copyright © _Cangkrukan Ilmu_ - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -