Kontroversi seputar hadirnya Satrio Piningit atau Ratu Adil belum ada
yang bisa memastikan kebenaran mitos tersebut. Konon Satrio Piningit
atau Ratu Adil bakal memimpin Indonesia sebagai mercusuar dunia --
dimana Indonesia akan mengalami masa kejayaan, kehidupan yang gemah
ripah loh jinawe. Tapi hingga kini kebenaran mitos tersebut belum bisa
terwujud atau dipertanggungjawabkan. Namun demikian untuk menyingkap
'hijab' mitos tersebut kami akan mencoba mengurai misteri Satrio
Piningit atau Ratu Adil tersebut sejauh referensi yang kami ketahui.
Validitas dan kebenaran uraian ini sepenuhnya menjadi hak prerogatif
pembaca. Boleh percaya, boleh tidak, boleh mengumpat-umpat diri sendiri
setelah membaca tulisan ini atau bahkan boleh saja mengharamkan membaca
tulisan ini. Sumonggo.
Konon sebelum Satrio Piningit muncul maka akan terjadi suatu peristiwa yang amat dahsyat dan mengerikan. Goro-goro atau huru-hara
yang terjadi secara merata di seluruh belahan bumi. Itulah goro-goro
yang keempat atau yang terakhir. Yang pertama adalah peristiwa black
September 97 di Makassar. Kedua, kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Ketiga
adalah kerusuhan yang muncul di Tunisia, Mesir, Lybia, Yaman, Suriah dan Negara-negara tetangga disekitarnya.
Kerusuhan pertama, kedua dan ketiga pada hakekatnya sama saja hanya
luas wilayah cakupannya yang berbeda. Persamaannya adalah kekuatan gaib
merasuk ke dalam diri manusia kemudian mengambil alih dan menggerakkan
manusia untuk mencapai tujuan bersama, yaitu menumbangkan penguasa tiran
(presiden yang telah lama berkuasa). Penguasa nyata yang menguasai
orang banyak (rakyat). Penguasa nyata yang memerintah secara mutlak dan sewenang-wenang kedudukannya sama dengan Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa maka wajib baginya menumbangkan penguasa yang dzalim.
Kerusuhan keempat yang akan terjadi nanti adalah kerusuhan dimana
kekuatan gaib bergerak sendiri dan menjadikan manusia, orang perorang
sebagai sasaran amuknya. Orang perorang yang dimaksud adalah semua orang
yang membiarkan nafsu berkuasa atas dirinya. Penguasa gaib yang
menguasai orang perorang (pribadi) disebut Fir’aun dan orang perorang
yang memperturutkan hawa nafsunya disebut sebagai pengikut setia dan
bala tentara Fir’aun. Karena Satrio Piningit menggenapkan Musa yang
telah menenggelamkan Fir’aun dengan semua pengikut setianya (bala
tentaranya) di laut merah maka Satrio Piningit juga akan menenggelamkan
orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya di lautan darah. Akan
terjadi banjir darah di mana-mana. Sebagian besar penduduk bumi akan
mati berdarah-darah.
Sebagaimana laki-laki pada umumnya, Satrio Piningit juga memiliki dua
sisi sifat di dalam dirinya yaitu sifat maskulin dan feminim. Sifat
maskulinnya tercermin dari sifat dia sebagai seorang lelaki jantan,
gagah, perkasa, tak terkalahkan, gigih berjuang mempertahankan kebenaran
yang diyakininya meski hanya seorang diri. Meski tidak dominan, Satrio
Piningit juga memiliki sifat sebagai orang yang angkuh. Meski tidak
punya apa-apa tapi mau dikatakan memiliki segalanya, meski rendah tapi
mau dikatakan tinggi, meski miskin tapi mau dikatakan kaya. Meski hanya
rakyat biasa mau dikatakan penguasa, meski pembangkang sejati mau
dikatakan penurut. Sifat angkuh adalah sifat negatif manusia tapi Satrio
Piningit mampu menstransformasi sifat negatif itu menjadi positif. Oleh
karena dia merubahnya menjadi positif maka Satrio Piningit menjadikan
semua itu sebagai motivasi dirinya agar dia bisa membuktikan
kebenarannya bahwa dia memang memiliki segalanya, dia memang kaya, dia
memang berkuasa. Dia membangkang kepada orang yang melakukan kesalahan
tapi dia menurut kepada orang yang bertindak benar.
Sadar akan dirinya sebagai seorang yatim, Satrio Piningit sejak kecil
dikenal sebagai pekerja keras, tidak suka berdiam diri apalagi
tidur-tiduran atau bermalas-malasan. Dia tidak suka rutinitas, dia suka
dengan perubahan karena itu dia suka dengan tantangan. Semakin besar
tantangan semakin dia sukai karena perubahan yang dihasilkan akan lebih
banyak meski semua itu harus dia lalui dengan penuh kesabaran. Satrio
Piningit adalah seorang penyabar yang terbaik. Dia bisa memperlihatkan
senyum simpatiknya meski hatinya tersinggung pahit. Sifat sabar Satrio
Piningit hanya kamuflase saja guna menutupi sifatnya yang suka membalas.
Siapapun yang menyakitinya akan dibalasnya tanpa ampun melebihi rasa
sakit yang pernah dia rasakan. Ini berlaku kepada semua orang tanpa
kecuali termasuk saudara sendiri. Konsep keadilan menurut faham Satrio
Piningit adalah apabila dia sudah melakukan pembalasan yang setimpal.
Sebagai anak dewa yang lahir dari rahim perempuan Jawa, meskipun dia
memiliki sifat sebagai seorang laki-laki maskulin akan tetapi Satrio
Piningit memiliki satu kelemahan utama. Kelemahannya inilah yang
membuktikan bahwa dia bukan seorang dewa. Satrio Piningit sangat “takut”
kepada ibunya. Dia takut tidak masuk syurga, karena kata orang syurga
itu berada di bawah telapak kaki ibu. Meski ibunya salah tapi dia tetap
saja menurut kemudian pelan-pelan merubahnya. Meski ibunya sudah marah
besar dengan menghardik dan memukulnya tapi dia tetap diam saja memasang
badannya kemudian pelan-pelan dia membuat lawakan kecil agar ibunya
tersenyum. Senyum ibunya adalah hadiah terindah bagi dirinya. Satrio
Piningit memiliki faham bahwa segala derita ibu saat ia berada di dalam
kandungannya dan rasa perih, sakit yang tak terkirakan yang ibu rasakan
saat dia dilahirkan harus dibalas dengan cara membuat ibu tersenyum
terhadap putera kebanggaannya. Balasan itu sudah cukup setimpal untuk
menebus derita dan rasa sakitnya. Akan tetapi menurut faham Satrio
Piningit; Air susu ibunya adalah hutang abadi yang tak mungkin bisa
terbalaskan sampai kapanpun dengan cara apapun.
Semasa hidupnya, Satrio Piningit senantiasa membaktikan dirinya kepada
ibunya. Setelah ibunya meninggal dunia, bakti itu belum berakhir. Bakti
Satrio Piningit diaplikasikan kedalam baktinya kepada ibu pertiwi yang
didominasi oleh keturunan bangsa-bangsa tanah Jawa sebagai asal muasal
leluhur ibunya, leluhur Satrio Piningit.
Saat ini Ibu pertiwi merasakan derita. Bangsa Indonesia menderita.
Bencana terjadi dimana-mana. Rakyat susah makan. Rakyat tidak merasa
nyaman. Banyak amarah. Banyak kejengkelan. Mungkin juga banyak
kebencian. Semua itu ibu pertiwi merasakannya. Ibu pertiwi tidak
menangis. Ibu pertiwi tetap sabar, karena ibu pertiwi tahu bahwa dia
sedang hamil. Memang segalanya terasa tidak enak, jika ibu tengah
mengalami masa ngidamnya. Ibu pertiwi tahu bahwa janin yang ada di dalam
kandungannya adalah pemimpin besar dunia. Janin itu masih bersembunyi
di dalam kandungan ibu pertiwi. Dia masih terpingit dalam kandungan ibu
pertiwi.
Kelak, apabila telah terjadi goro-goro yang amat dahsyat, sakit yang
sangat menyakitkan, darah berceceran dimana-mana dan banjir darah maka
itulah tandanya, itulah masa Ibu pertiwi melahirkan putera tunggalnya.
Putra kebanggaannya. Putera yang diidam-idamkan. Putera yang telah lama
dinanti-nantikan. Puteranya itu memiliki nama yang terdiri atas Sembilan
huruf zah-aja (sahaja, saja).
Puteranya itu akan memimpin Indonesia dan dunia. Meskipun dia seorang
laki-laki tapi dia memiliki gelar ratu adil. Itu disebabkan karena dia
memiliki juga sifat feminim, seperti ibu pertiwi yang cantik jelita ini.
Sifatnya itu adalah karena dia akan memerintah dengan penuh kelembutan,
penuh kasih dan penuh sayang. Bangsa Indonesia akan merasa seperti
berada di syurga. Merasa tentram, teduh, damai, segalanya tersedia dan
disediakan. Karena itulah bangsa-bangsa lain melirik Indonesia dan ingin
tinggal di Indonesia. Dan putera ibu pertiwi akan berkata “datanglah
kemari semua, kita wujudkan persatuan kita, persatuan Indonesia. Aku
adalah pemimpin kalian dengan mengedepankan kemanusiaan yang adil dan
beradab. Kita semua adalah hamba Tuhan dibawa panji Ketuhanan Yang Maha
Esa. Bendera kemerdekaan kita adalah merah putih. Lagu kebangsaan kita
adalah Indonesia Raya. Segalanya dan semua yang kalian nikmati ini
awalnya dimulai dari orang Jawa, dari tanah Jawa, kemudian menjadi raya
disebut Indonesia yang artinya Satu Untuk Semua”.
Dan ibu pertiwi yang cantik jelita dengan keluguannya berkata ”Semua
dapat terjadi seperti ini karena puteraku takut tidak masuk syurga.
Karena bapaknya adalah dewa maka bapaknya buat syurga di muka bumi ini
agar puteraku merasa senang dan bahagia. Kesenangan dan kebahagiaan
puteraku adalah kesenangan dan kebahagiaan kita semua. Indonesia, satu
untuk semua. Itulah keadilan”.
Zaman Hura-Hura Menuju Masa Huru-Hara
Kapankah terjadinya goro-goro atau huru-hara ?. Meskipun waktunya sudah
dekat akan tetapi tidak ada yang bisa memastikan waktu terjadinya.
Huru-hara akan terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada tanda-tanda apalagi
pertanda yang mendahuluinya sehingga orang-orang tidak akan mungkin bisa
melindungi dirinya. Ibarat ibu yang sedang hamil, tidak ada yang bisa
memastikan pada saat kapan, jam berapa lewat menit dan detik keberapa
ibu itu melahirkan anaknya. Huru-hara terjadi pada malam hari. Semua
orang ketakutan. Banyak darah segar berceceran dimana-mana. Mayat-mayat
dengan kepala terpenggal tergeletak begitu saja. Mengerikan!.
Sekarang ini adalah jaman edan !. Jaman kebebasan !. Banyak tingkah
laku manusia yang aneh-aneh dan lucu-lucu. Inilah jaman hura-hura.
Silahkan berhura-hura sebelum datangnya huru-hara. Hura-hura adalah masa
kebebasan dan kesenangan manusia, karena itu jin dan syetan dikurung di
dalam penjara bawah tanah dan mereka dibiarkan kelaparan. Mereka tidak
boleh ikut campur dengan apa yang mau dilakukan oleh manusia. Maksiat
merajalela karena manusia suka dan senang melakukannya. Semua orang
merasa diri benar padahal salah. Merasa pintar padahal bodoh. Merasa
baik padahal jahat. Dianggap dekat dengan Tuhan padahal jauh. Dianggap
kuat padahal lemah. Itulah sebabnya sehingga disebut jaman edan!.
Keedanan manusia bukan disebabkan oleh karena hasutan atau godaan jin
dan syetan akan tetapi murni disebabkan oleh karena manusia menuruti
hawa nafsu yang ada didalam dirinya sendiri.
Huru-hara adalah masa kesenangan dan kebebasan jin dan syetan memakan
manusia. Mereka akan datang berlarian seperti binatang buas yang lapar!,
Menurut faham dan keyakinan Satrio Piningit itulah yang dimaksud dengan
“keadilan”. Keadilan harus ditegakkan di bumi ini. Setelah hura-hura
maka huru-hara harus terjadi. Keadilan harus tegak di bumi ini sebelum
Ratu Adil memerintah.
