Posted by : ZiaMuhammad Minggu, 29 Oktober 2017



Hadis Cabang-cabang Iman
Oleh: M. Zia Al-Ayyubi (15530057), Bayu Ariful Rahman (15530051)

A.           Pendahuluan
Iman merupakan sebuah lafadz yang berasal dari bahasa Arab, yang berupa isim musytaq dari lafadz aman, yang mempunyai arti kebalikan dari khauf. Adapun secara istilah, sebagaimana yang telah dipaparkan secara panjang lebar pada pertemuan sebelumnya, iman berarti mengatakan dengan hati, mempercayai dengan hati, dan melaksanakan dengan perbuatan.
Dalam pembahasan kali ini terfokuskan pada masalah cabang-cabang iman. Dalam salah satu hadis nabi Muhammad dikatakan bahwasanya iman terbagi menjadi 70 cabang lebih. Hal ini mengindikasikan adanya tingkatan-tingkatan dalam iman.

B.     Redaksi Hadis Cabang-cabang Iman
1.      Shohih Al-Bukhari:9
حدَّثنا عبدُ اللّهِ بنُ محمدٍ قال: حدثنا أبو عامِرٍ العَقدِيُّ قال: حدثنا سُليمانُ بنُ بلالٍ عنْ عبدِ اللّهِ بنِ دِينارٍ عنْ أبي صالحٍ عن أبي هُرَيْرةَ رضي اللّهُ عنه عنِ النبيِّ صلى الله عليه وسلّمقال: «الإِيمانُ بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعْبةً، والحياءُ شُعْبةٌ مِنَ الإِيمان»         
Artinya: ..... Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman”

2.      Musnad ImamAhmad: 9250
حدّثنا عبد الله ، حدَّثني أبي، حدثنا عفان قال: حدثنا حماد بن سلمة قال: أنبانا سهيل بن أبي صالح ، عن عبد الله بن دينار ، عن أبي صالح ، عن أبي هريرة ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: «الإيمان بضع وسبعون باباً، أفضلها لا إله إلا الله، وأدناها إماطة العظم عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان
Artinya: ..... Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Iman itu ada tujuh puluh bagian lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman”

3.      Musnad Imam Ahmad: 9609
حدَّثنا عبد الله ، حدَّثني أبي، حدثنا وكيع قال: حدثنا جعفر بن برقان ، عن يزيد بن الأصم ، عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: «الإيمان بضع وسبعون باباً فأدناها إماطة الأذى عن الطريق وأرفعها قوله: لا إله إلا الله».
Artinya: ..... Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Iman itu ada tujuh puluh bagian lebih. Yang paling rendah yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan yang paling tinggi adalah perkataan Lâ ilâha illallâh.

C.    Syarah Hadis[1]
Menurut Al Qazzaz berarti bilangan antara tiga sampai sembilan. Menurut Ibnu Saidah berarti bilangan dari tiga sampai sepuluh. Sedangkan pendapat yang lain mengartikan, angka antara satu sampai sembilan, atau dua sampai sepuluh, atau juga empat sampai sembilan.
Tidak terjadi perbedaan kata sittun pada sanad dari Abu Amir, syaikh Imam Bukhari.
Arti kata syu’batun adalah potongan, tapi maksud kata tersebut adalahcabang, bagian, atau perangai.
Secara etimologi al-haya’ berarti perubahan yang ada pada diriseseorang karena takut melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan aib. Kata tersebut juga berarti meninggalkan sesuatu dengan alasan tertentu, atau adanya sebab yang memaksa kita harus meninggalkan sesuatu. Sedangkan secara terminologi, berarti perangai yang mendorong untuk menjauhi sesuatu yang buruk dan mencegah untuk tidak memberikan suatu hak kepada pemiliknya, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, "Malu itu baik keseluruhannya."
Apabila dikatakan, bahwa sesungguhnya sifat malu merupakaninsting manusia, lalu bagaimana bisa dikategorikan sebagai cabang dari iman? Jawabnya, bahwa malu bisa menjadi insting dan bisa menjadi sebuah prilaku moral, akan tetapi penggunaan rasa malu agar sesuai dengan jalur syariat membutuhkan usaha, pengetahuan dan niat, maka dari sinilah dikatakan bahwa malu adalah bagian dari iman, karena maludapat menjadi faktor stimulus yang melahirkan perbuatan taat dan membentengi diri dari perbuatan maksiat. Dengan demikain tidak dibenarkan kita mengatakan, "Ya Tuhan aku malu untuk mengucapkankata kebenaran atau malu untuk melakukan berbuatan baik, " karena yang seperti ini tidak sesuai dengan syariat. Apabila ada pendapat yang mengatakan, "Kenapa hanya malu yang disebutkan?" Jawabnya, karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman yang lain, sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang buruk di dunia dan akhirat, sehingga malu dapat berfungsi untuk memerintah dan menghindari atau mencegah.
Pelajaran yang dapat diambil
Ibnu Iyad berpendapat, "Semua orang telah berusaha untukmenentukan cabang atau bagian iman dengan ijtihad. Karena menentukan hukumnya secara pasti sangat sulit untuk dilakukan. Tetapi tidak berarti keimanan seseorang akan cacat bila tidak mampu menentukan batasan tersebut secara terperinci."Orang-orang yang mencoba menghitung semua cabang tersebut tidak menemukan suatu kesepakatan, tetapi yang mendekati kebenaran adalah metode yang dikemukakan oleh Ibnu Hibban. Namun hal itu tidak menjelaskannya secara rinci, hanya saja diringkas apa yang mereka paparkan dan apa yang saya sebutkan, bahwa iman terbagi  menjadi beberapa cabang, yaitu:
1.      Perbuatan hati, termasuk keyakinan dan niat. Prilaku hati inimencakup 24 cabang, yaitu: iman kepada dzat, sifat, keesaan dankekekalan Allah, iman kepada malaikat, kitab-kitab, Rasul, qadha danqadar, hari Akhir, termasuk juga alam kubur, hari kebangkitan,dikumpulkannya semua orang di padang mahsyar, hari perhitungan,perhitungan pahala dan dosa, surga dan neraka. Kemudian kecintaankepada Allah, kecintaan kepada sesama, kecintan kepada nabi dankeyakinan akan kebesarannya, shalawat kepada Nabi danmalaksanakan sunnah. Selanjutnya keikhlasan yang mencakupmeninggalkan riba, kemuna-fikan, taubat, rasa takut, harapan, syukur,amanah, sabar, ridha terhadap qadha, tawakkal, rahmah, kerendahanhati, meninggalkan kesombongan, iri, dengki dan amarah.
2.      Perbuatan lisan yang mencakup tujuh cabang keimanan, yaitumelafalkan tauhid (mengesakan Allah), membaca Al Qur'an,mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, doa, dzikir dan istighfar(mohon ampunan) dan menjauhi perkataan-perkataan yang tidakbermanfaat.
3.      Perbuatan jasmani yang mencakup tiga puluh delapan cabang iman,dengan rincian sebagai berikut:
a.       Berkenaan dengan badan, ada lima belas cabang, yaitu: bersuci danmenjahui segala hal yang najis, menutup aurat, shalat wajib dan sunnah,zakat, membebaskan budak, dermawan (termasuk memberi makan danmenghormati tamu), puasa wajib dan sunnah, haji dan umrah, thawaf, i’tikaf, mengupayakan malam qadar (lailatu! qadar), mempertahankanagama seperti hijrah dari daerah syirik, melaksanakan nadzar danmelaksanakan kafarat.
b.      Berkenaan dengan orang lain, ada enam cabang, yaitu iffah (menjagakesucian diri) dengan melaksanakan nikah, menunaikan hak anak dankeluarga, berbakti kepada orang tua, mendidik anak, silaturrahim, taatkepada pemimpin dan beriemah lembut kepada pembantu.
c.       Berkenaan dengan kemaslahatan umum, ada tujuh belas cabang, yaituberlaku adil dalam memimpin, mengikuti kelompok mayoritas, taatkepada pemimpin, mengadakan ishlah (perbaikan) seperti memerangipara pembangkang agama, membantu dalam kebaikan seperti amarma'ruf dan nahi munkar, melaksanakan hukum Allah, jihad, amanahdalam denda dan hutang serta melaksanakan kewajiban hidup bertetangga.Kemudian menjaga perangai dan budi pekerti yang baik dalamberinteraksi dengan sesama seperti mengumpulkan harta dijalan yanghalal, menginfakkan sebagian hartanya, menjauhi foya-foya dan menghambur-hamburkan harta, menjawab salam, mendoakan orang yangbersin, tidak menyakiti orang lain, serius dan tidak suka main-main, sertamenyingkirkan duri di jalanan. Demikianlah semua cabang keimanantersebut yang jumlahnya kurang lebih menjadi enam puluh sembilancabang. Pembagian ini dapat dijumlahkan menjadi tujuh puluh sembilancabang bila sebagian cabang di atas diperincikan kembali secara mendetail.
D.           Macam-macam atau rincian dari cabang-cabang iman.
Adapun perincian dari cabang-cabang iman, difokuskan dalam 5 pembahasan atau cabang. Dikarenakan dari kesekian point, kelima inilah yang menjadi point utama dalam cabang-cabang iman, yang kemudian dikenal dengan rukun iman. Adapun pembahasan mengenai cabang iman kepada hari akhir akan dibahas secara terperinci pada pertemuan yang lain.
1.      Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah disini mempunyai maksud bahwasanya orang mukmin menetapkan adanya Allah, mengakui eksistensi-Nya. Sedangkan kata iman lahu (mengimani-Nya) berarti taat dan patuh kepada-Nya.[2]
Beriman kepada Allah dibangun di atas landasan firman Allah swt :
وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ
“Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah.” (Qs. Al Baqarah 285)
Selain itu, perintah inipun ditetapkan berdasarkan hadist Abu Hurairah dalam  kitab Ash-Shahihain yang disepakati ke-Shahih-annya, yang artinya sebagaimana berikut:“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan, ‘tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah’, siapa yang mengucapkan ‘laa ilaaha’ berarti jiwa dan hartanya telah terjaga dariku kecuali atas dasar haknya, lalu perhitungannya ada pada Allah.”
Syahadat adalah kewajiban yang menggabung antara keyakinan dalam hati dengan pengakuan secara lisan. Adanya keyakinan dan pengakuan. Kalau keduanya adalah amalan maka harus diamalkan dengan dua anggota tubuh yang berbeda, sebab jenis amal itu sendiri satu, amal yang disandarkan kepada hati itu pulalah amal yang disandarkan kepada lidah, dan yang disandarkan kepada lidah maka itu pula yang disandarkan kepada hati. Sebagaimana sebuah tulisan yang harus diucapkan maka tulisan itu adalah apa yang dibaca itulah tulisan itu sendiri.[3]
Amal shalih dengan keyakinan dan pengakuan dikumpulkan dalam beberapa hal :
a.         Mengakui Al Bari (Allah) agar terhindar dari sifat ta’hil.
b.         Menetapkan kemanunggalan Allah agar terhindar dari syirik.
c.         Menetapkan bahwa Allah bukanlah jauhar bukan pula aradh agar terhindar dari tasybih.
d.        Menetapkan bahwa wujud selain Allah adalah ma’dum (tiada) sebelum diciptakan agar terhindar dari teori orang yang mengatakan adanya sebab dan akibat.
e.         Menetapkan bahwa Allah adalah mudabbir (pengatur) apa yang Dia ciptakan serta mengarahkan ciptaan itu kemana saja Dia kehendaki agar terhindar dari teori tentang tabiat atau pengaturan alam oleh bintang-bintang atau para malaikat.

2.      Iman Kepada Rasul-Rasul Allah
Beriman kepada Rasul dan utusan Allah ditetapkan dalam firman Allah:
            وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
            “Demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya dan rasul-rasul-Nya.” (Qs. Al Baqarah 285)
Selain itu, juga berdasarkan hadis Umar bin Al Khaththab dalam kitab Ash-Shahihain berupa pertanyaan Jibril tentang iman lalu beliau menjawab, “Iman itu adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya..”
Cabang kedua dari cabang-cabang dari iman adalah bab iman kepada rasul-rasul Allah secara yakin dan pengakuan. Hanya saja, iman kepada selain Nabi kita Muhammad saw hanya sebatas bahwa mereka adalah para utusan Allah kepada para umat yang disebutkan oleh Allah tempat mereka diutus dan bahwa mereka semua benar serta berada di jalan yang benar.
Sedangkan iman kepada Nabi Muhammad sebagai Nabi adalah membenarkan bahwa beliau adalah Nabi dan utusan Allah kepada umat di mana beliau diutus dan umat-umat setelahnya, baik dari kalangan jin maupun manusia sampai Hari Kiamat.[4]
           
3.      Beriman Kepada Malaikat
Beriman kepada malaikat ditetapkan berdasarkan ayat dan hadist yang telah disebutkan sebelumnya. Cabang iman ketiga adalah beriman kepada malaikat, yaitu mengandung beberapa makna:
a.         Meyakini keberadaan mereka.
b.         Menempatkan mereka sesuai posisi mereka yaitu sebagai hamba Allah dan makhluk-Nya seperti manusia dan jin yang diperintahkan dan dibebani perintah Allah. Mereka tidak sanggup melakukan sesuatu kecuali sesuai kemampuan yang diberikan Allah kepada mereka. Mereka bisa saja mati, tapi Allah menetapkan mereka untuk waktu yang lama. Jadi, Allah tidak mematikan mereka kecuali kalau tiba waktunya. Mereka tidak boleh disifati dengan sesuatu yang mengarah pada penyekutuan terhadap Allah, dan mereka tidak boleh dijadikan sesembahan seperti yang dilakuan para umat terdahulu.
c.         Mengakui bahwa di antara mereka ada duta yang diutus oleh Allah kepada siapa saja yang ia kehendaki daari kalangan manusia. Kadang bisa saja mereka diutus ke kalangan mereka sendiri. Hal itu diikuti pula dengan pengakuan bahwa di antara mereka ada yang membawa arsy, ada di antara mereka yang berbaris, ada penjaga surga, ada penjaga neraka, ada yang mencatat amal, ada yang mengarahkan awan. Semua itu terdapat dalam al-Qur’an atau paling tidak sebagian besarnya.[5]
Dalam konteks iman kepada mereka secara khusus Allah berfirman :
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (Qs. Al Baqarah 285)

Beriman kepada malaikat pun ditegaskan dalam hadis yang artinya sebagaimana berikut:
Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Malaikat itu diciptakan dari cahaya, sedangka jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang didiskripsikan kepada kalian.”

4.      Iman Kepada Al-Qur’an dan Semua Kitab Suci yang Telah Diturunkan Sebelumnya.
Beriman kepada al-Qur’an dan semua kitab suci yang telah diturunkan ditetapkan berdasarkan firman Allah :
            يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ
            “Wahaui orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (Qs. An Nisaa’ 136)

Selain itu, juga ditetapkan juga berdasarkan ayat dan hadis yang telah disebutkan sebelumnya. Cabang iman keempat adalah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad sawdan semua kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi.
Iman kepada al-Qur’an terbagi dalam beberapa cabang :
a.         Beriman bahwa dia adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, bukan redaksi yang diucapkan oleh Muhammad, bukan pula oleh Jibril.
b.         Percaya bahwa dia adalah mukjizat yang mana kalaupun manusia dan jin bersatu untuk membuat tandingannya niscaya mereka tidak akan mampu menandinginya.
c.         Yakin bahwa al-Qur’an itu adalah semua yang ada di mushaf-mushaf kaum muslimin setelah wafatnya Nabi. Tidak ada satu huruf pun yang ketinggalan atau terlupa di dalamnya. Tidak pula dia tercecer lantaran kesalahan penulis mushaf  atau matinya seorang penghafal atau bisa disembunyikan oleh pihak tertentu. Tidak akan berkurang atau bertambah satu huruf pun.[6]

5.      Beriman Kepada Takdir Baik dan Takdir Buruk dari Allah.
Beriman kepada Takdir baik dan buruk ditetapkan berdasarkan firman Allah :
قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
            “Katakanlah, ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah’.” (Qs. An Nisaa’ 78)
Selain terdapat pada ayat al-Qur’an, beriman kepada Takdir baik dan buruk ditetapkan juga terdapat dalam hadist :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Pada diri masing-masing ada kebaikan. Berusahalah dengan maksimal mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan minta Tolonglah kepada Allah, serta jangan malas. Kalau kamu mendapat keburukan maka jangn mengatakan, ‘Allah telah menakdirkandan apa yang Dia inginkan pasti Dia lakukan.’ Sebab kata ‘seandainya’ itu membuka (pintu untuk) tindakan syaitan.”
Dalam hadist ini terdapat petunjuk bahwa seorang hamba akan diberi kemudahan berdasarkan takdir dia ciptakan. Kemudahan itu sendiri adalah hak prerogratif Allah yang tidak boleh ditanya mengapa Dia berbuat demikian, tapi manusialah yang ditanya tentang perbuatannya . Hal ini mengindikasikan bahwa manusia beribadah dengan ibadah jenis ini lantaran ada keterkaitan antara ketakutan mereka secara batin terhadap hal yang tidak tampak di mata mereka. Sehingga, mereka tidak boleh hanya bersandar pada zhahir amal mereka semata dan dengan itu mereka berharap akan berakhir dengan sukses.[7]

E.     Kesimpulan
Iman memiliki cabang-cabang yang itu tidak disebutkan secara eksplisit oleh nabi dalam hadisnya. Olehkarenaa itu, para ulama’ muhaditsin mencoba menginjtihadkan apa saja rincian dari cabang-cabang iman tersebut. Dalam merinci segaligus mengurutkan dari tingkatan iman yang paling tinggi, hingga yang paling rendah. Tentunya dalam penyusunannya, beliau memberikan dalil beserta argumen untuk menguatkan ijtihad beliau. Apa yang telah dilakukan oleh ulama’-ulama’ terdahulu, dimaksudkan agar umat Islam dapat dengan mudah untuk memahami bagaimana pengaplikasian iman secara sempurna, sehingga memperoleh predikat iman yang sempurna pula.

Daftar Pustaka
Ahmad, Abu Abdullah, 1993, Musnad Al-Imam Ahmad, Beirut: Daru Ahya’i Turats Al-‘Arabi.
Ali, Abu Al-Fadhl Ahmad bin, 1993, Fathul Bari’ Syarh Shahih Bukhari, Bairut:Darul Fikr.
Asy-Syafi’i, Imam al-Qawazini, 2011, Ringkasan Syu’ab Al Iman, Jakarta: Pustaka Azzam.
Ismail, Abu Abdullah Ahmad bin, 1993, Shahih al-Bukhari, TKP: Daar Ibn Katsir.


Lampiran

قوله: (بضع) بكسرأوله،وحكىالفتحلغة،وهوعددمبهممقيدبمابينالثلاثإلىالتسعكماجزمبهالقزاز. وقالابنسيده: إلىالعشر. وقيل: منواحدإلىتسعة. وقيل: مناثنينإلىعشرة. وقيلمنأربعةإلىتسعة. وعنالخليل: البضعالسبع. ويرجحماقالهالقزازمااتفقعليهالمفسرونفيقولهتعالى: {فَلَبِثَفِىٱلسِّجْنِبِضْعَسِنِينَ} . ومارواهالترمذيبسندصحيحأنقريشاًقالواذلكلأبيبكر،وكذارواهالطبريمرفوعاً،ونقلالصغانيفيالعبابأنهخاصبمادونالعشرةوبمادونالعشرين،فإذاجاوزالعشرينامتنع. قال: وأجازهأبوزيدفقال: يقالبضعةوعشرونرجلاًوبضعوعشرونامرأة. وقالالفراء: وهوخاصبالعشراتإلىالتسعين،ولايقالبضعومائةولابضعوألف. ووقعفيبعضالرواياتبضعةبتاءالتأنيثويحتاجإلىتأويل.
قوله: (وستون) لمتختلفالطرقعنأبيعامرشيخشيخالمؤلففيذلك،وتابعهيحيىالحمانيـبكسرالمهملةوتشديدالميمـعنسليمانبنبلال،وأخرجهأبوعوانةمنطريقبشربنعمروعنسليمانبنبلالفقال: بضعوستونأوبضعوسبعونوكذاوقعالترددفيروايةمسلممنطريقسهيلبنأبيصالحعنعبداللهبندينار،ورواهأصحابالسننالثلاثةمنطريقهفقالوا: بضعوسبعونمنغيرشك،ولأبيعوانةفيصحيحهمنطريقستوسبعونأوسبعوسبعون،ورجحالبيهقيروايةالبخاريلأنسليمانلميشك،وفيهنظرلماذكرنامنروايةبشربنعمروعنهفترددأيضاًلكنيرجحبأنهالمتيقنوماعداهمشكوكفيه. وأماروايةالترمذيبلفظأربعوستونفمعلولة،وعلىصحتهالاتخالفروايةالبخاري،وترجيحروايةبضعوسبعونلكونهازيادةثقةـكماذكرهالحليميثمعياضـلايستقيم،إذالذيزادهالميستمرعلىالجزمبها،لاسيمامعاتحادالمخرج. وبهذايتبينشفوفنظرالبخاري. وقدرجحابنالصلاحالأقللكونهالمتيقن.
قوله: (شعبة) بالضمأيقطعة،والمرادالخصلةأوالجزء.
قوله: (والحياء) هوبالمد،وهوفياللغةتغيروانكساريعتريالإنسانمنخوفمايعاببه،وقديطلقعلىمجردتركالشيءبسبب،والتركإنماهومنلوازمه. وفيالشرع: خلقيبعثعلىاجتنابالقبيح،ويمنعمنالتقصيرفيحقذيالحقولهذاجاءفيالحديثالآخر: «الحياءخيركله». فإنقيل: الحياءمنالغرائزفكيفجعلشعبةمنالإيمان؟أجيببأنهقديكونغزيرةوقديكونتخلقاً،ولكناستعمالهعلىوفقالشرعيحتاجإلىاكتسابوعلمونية،فهومنالإيمانلهذا،ولكونهباعثاًعلىفعلالطاعةوحاجزاًعنفعلالمعصية. ولايقال: ربحياءيمنععنقولالحقأوفعلالخير،لأنذاكليسشرعيَّاً،فإنقيل: لمأفردهبالذكرهنا؟أجيببأنهكالداعيإلىباقيالشعب،إذالحيييخاففضيحةالدنياوالآخرةفيأتمروينزجر،واللهالموفق. وسيأتيمزيدفيالكلامعنالحياءفي «بابالحياءمنالإيمان»بعدأحدعشرباباً.
            )فائدة): قالالقاضيعياض: تكلفجماعةحصرهذهالشعببطريقالاجتهاد،وفيالحكمبكونذلكهوالمرادصعوبة،ولايقدحعدممعرفةحصرذلكعلىالتفصيلفيالإيمان. اهـ. ولميتفقمنعدالشعبعلىنمطواحد،وأقربهاإلىالصوابطريقةابنحبان،لكنلمنقفعلىبيانهامنكلامه،وقدلخصتمماأردوه. ماأذكره،وهوأنهذهالشعبتتفرععنأعمالالقلب،وأعمالاللسان،وأعمالالبدن. فأعمالالقلبفيهالمعتقداتوالنيات،وتشتملعلىأربعوعشرينخصلة: الإيمانبالله،ويدخلفيهالإيمانبذاتهوصفاتهوتوحيدهبأنهليسكمثلهشيء،واعتقادحدوثمادونه. والإيمانبملائكته. وكتبه. ورسله. والقدرخيرهوشره. والإيمانباليومالآخر،ويدخلفيهالمسألةفيالقبر،والبعث،والنشور،والحساب،والميزان،والصراط،والجنةوالنار. ومحبةالله. والحبوالبغضفيه،ومحبةالنبيصلىاللهعليهوسلّمواعتقادتعظيمه،ويدخلفيهالصلاةعليه،واتباعسنته. والإخلاص،ويدخلفيهتركالرياءوالنفاق،والتوبة. والخوف. والرجاء. والشكر. والوفاء. والصبر. والرضابالقضاء. والتوكل. والرحمة. والتواضع،ويدخلفيهتوقيرالكبيرورحمةالصغيرة. وتركالكبروالعجب. وتركالحسدوتركالحقد. وتركالغضب * وأعمالاللسانوتشتملعلىسبعخصال: التلفظبالتوحيد. وتلاوةالقرآن. وتعلمالعلم. وتعليمه. والدعاء. والذكر،ويدخلفيهالاستغفار. واجتناباللغو * وأعمالالبدنوتشتملعلىثمانوثلاثينخصلة،منهامايختصبالأعيانوهيخمسعشرةخصلة: التطهيرحساًوحكماً،ويدخلفيهاجتنابالنجاسات. وسترالعورة. والصلاةفرضاًونفلاً. والزكاةكذلك. وفكالرقاب. والجود،ويدخلفيهإطعامالطعاموإكرامالضيف. والصيامفرضاًونفلاً. والحج،والعمرةكذلك. والطواف. والاعتكاف. والتماسليلةالقدر. والفراربالدين،ويدخلفيهالهجرةمنجارالشرك. والوفاءبالنذر،والتحريفيالأيمان،وأداءالكفارات. ومنهامايتعلقبالاتباع،وهيستخصال: التعففبالنكاح،والقيامبحقوقالعيال. وبرالوالدين،وفيهاجتنابالعقوق. وتربيةالأولاد. وصلةالرحم. وطاعةالسادةأوالرفقبالعبيد. ومنهامايتعلقبالعامة،وهيسبععشرةخصلة: القيامبالإمرةمعالعدل. ومتابعةالجماعة. وطاعةأوليالأمر. والإصلاحبينالناس،ويدخلفيهقتالالخوارجوالبغاة. والمعاونةعلىالبر،ويدخلفيهالأمربالمعروفوالنهيعنالمنكر. وإقامةالحدود. والجهاد،ومنهالمرابطة. وأداءالأمانة،ومنهأداءالخمس. والقرضمعوفائهوإكرامالجار. وحسنالمعاملة،وفيهجمعالمالمنحله. وإنفاقالمالفيحقه،ومنهتركالتبذيروالإسراف. وردالسلام. وتشميتالعاطس. وكفالأذىعنالناس. واجتناباللهووإماطةالأذىعنالطريق. فهذهتسعوستونخصلة،ويمكنعدهاتسعاًوسبعينخصلةباعتبارإفرادماضمبعضهإلىبعضمماذكر. واللهأعلم[8]


[1]Abu Al-Fadhl Ahmad bin Ali, Fathul Bari’ Syarh Shahih Bukhari, (Bairut:Darul Fikr, 1993), jilid 15, hlm 9490.
[2] Imam al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), hlm. 17.
[3] Imam al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), hlm. 19.
[4] Imam al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), hlm. 27.
[5] Imam al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), hlm. 30-31.
[6] Imam al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), hlm. 34.
[7] Imam al-Qawazini Asy-Syafi’i, Ringkasan Syu’ab Al Iman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), hlm. 45.
[8]Abu Al-Fadhl Ahmad bin Ali, Fathul Bari’ Syarh Shahih Bukhari, (Bairut:Darul Fikr, 1993), jilid 15, hlm 9490.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © _Cangkrukan Ilmu_ - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -