Posted by : ZiaMuhammad Minggu, 29 Oktober 2017



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang.
Hadis adalah sumber hukum kedua bagi orang Islam setelah Al-Qur’an. Namun bukan hanya sumber hukum. Dalam hadis sendiri terdapat penjelasan-penjelasan dari Al-Qur’an, yang mana posisi hadis disini adalah sebagai mubayyin, atau penjelas dari Al-Qur’an yang sifatnya global. Dan bahkan tidak hanya berkutat pada itu saja, sebenarnya hadis nabi mencakup banyak hal, baik itu tentang aqidah, fiqh, maupun hal-hal yang berhubungan dengan keduniawian.
Kemudian seiring berkembangnya waktu dan zaman, problema-problema yang terjadi pada saat itu membuat orang menjadi lebih jauh terhadap sunah-sunah nabi. Dan munculah karya-karya dari para ulama’ hadis yang termotivasi agar umat Islam kembali menaruh perhatiannya untuk mempelajari sunah-sunah nabi dan mengamalkannya. Inovasi yang berkembang saat itu, agar umat Islam tetap mempelajari hadis-hadis nabi yakni salah satunya adalah dengan membuat karya sebuah kitab hadis yang mana kitab tersebut adalah mengambil hadis-hadis dari kitab-kitab hadis primer, dan memangkas sanadnya, agar umat Islam dalam mempelajarinya tidak kesulitan.
Dan pada akhirnya munculah sebuah karya kitab hadis dari Syeikh Ahmad bin Shalih Asy-Syami, yang mana dalam karyanya diberi nama Al-Wafi bima fi As-Shahihain.
B.     Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas maka pembahasan makalah ini akan difokuskan pada masalah-masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana biografi dari mushanif kitab Al-Wafi?
2.      Apa yang melatarbelakangi penulisan kitab Al-Wafi?
3.      Apa metode yang digunakan dalam penulisan Al-Wafi?
4.      Bagaimana sistematika penulisan Al-Wafi?
5.      Apa kelebihan dan keunikan dari kitab Al-Wafi?
C.     Tujuan Penulisan.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yang berdasarkan pada rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui biografi mushanif kitab Al-Wafi.
2.      Untuk mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi penulisan kitab Al-Wafi.
3.      Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam penulisan Al-Wafi.
4.      Untuk mengetahui sistematika penulisan Al-Wafi.
5.      Untuk mengetahui kelebihan dan keunikan dari kitab Al-Wafi.


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Biografi Mushanif.
Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Shalih Asy-Syami. Beliau lahir di kota dekat Damaskus pada tahun 1322 H / 1904 M. dan dibesarkan disana. di Sekolah Dasar ia mulai menimba ilmu pengetahuan. Namun, ketika beliau berada dikelas tiga SD terpaksa harus berhenti karena Ayahnya meninggal dunia dan ia harus mencari nafkah untuk menghidupi dirinya, Ibu serta adiknya.
Pada awalnya beliau bekerja sebagai penjual roti, disamping itu beliau juga menulis surat untuk dikirim kepada tentara yang dikirim oleh kekaisaran Ottoman untuk perang Balkan dan lainnya. Bakat beliau muncul ketika bekerja di toko yg menjual kain. Beliau piawai dalam mengelola pekerjaan dan pandai menarik hati pelanggan, itu karena akhlak beliau yang mulia, sikapnya yang jujur. Beliau mendapat kepercayaan dari para pedagang dan penjaga toko.
Hal ini membantu beliau nantinya ketika membuka sebuah toko kecil yang menjual kain. Kepercayaan pedagang yang jujur dapat dipercaya adalah modal kerja yang dilakukan. Dengan pekerjaan ini beliau memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kesibukan beliau berdagang tidak menyurutkan semangat beliau untuk menghadiri pengajian Syeikh Mushtafa Asy-Syatti yang menjadi ahli penasihat ketika itu, Syeikh Mahmus Sayyid dan Syeikh Muhammad Mufid an-Naqsabandiy yang dikenal dengan sa’ati. Mereka adalah ulama Negara pada saat itu. Beliau mempelajari fiqh madzhab Imam Ahamad, Undang-Undangnya, Etika dan Perilaku.
Sejak saudaranya ikut bekerja di tokonya, dengan ini memberikan kesempatan lebih baginya untuk belajar ke Damaskus, berguru kepada para Ulama’ disana. Diantaranya:
-          Syeikh Badruddin al-Hasani,
-          Syeikh Muhammad Maki al-Kitani,
-          Syeikh Taufiq al-Ayyubi,
-          Syeikh Muhammad at-Talmisani
-          Syeikh Ali ad-Dakr
-          Syeikh Muhammad al-Hasyimi.
Ketika itu belum ada transportasi 24 jam, sehingga Asy-Syami pun berjalan kaki. Adapun pelajaran Syeikh al-Badruddin al-Hasyimi adalah setelah sholat shubuh. Untuk itu beliau berangkat setelah tengah malam bersama dengan beberapa murid lainnya dengan berjalan kaki. Setelah sampai beliau sholat berjama’ah dengan Syeikh, kemudian mendengarkan pengajiannya.
Pada tahun 1355 H / 1936 M mulai merintis Pendidikan, pada awalnya beliau merasa prihatin melihat masayarakat yang bodoh tentang agama. Setelah bermusyawarah dengan teman-temannya, beliau mengadakan pengajian Diniyah dan Umum dirumahnya. Beliau pernah menjabat sebagai mufti., dan kearifan beliau dikenal diluar negeri, sampai ke Negara-negara tetangga.
Beliau tidak pernah menutup pintunya, ia menerima tamu sepanjang waktu, dan ini berdampak buruk pada kesehatannya dikemudian hari. Hidupnya hanyalah untuk bekerja memperbaiki masyarakat.
Asy-Syami meninggal setelah sekian lama sakit di bulan Safar tahun 1414 H / 1996 M. pada hari itu pasar ditutup. Masyarakat kota datang secara massal di pemakaman Syeikh Syami. Pada saat itu sedang musim. Orang-orang yang rumahnya didekat pemakaman membawa air dingin untuk diberikan kepada para pelayat. Itu untuk memuliakan mereka, dan beliau as-Syami. Semua orang adalah keluarga Syeikh.[1]


B.     Latar Belakang Penulisan Kitab
Seperti yang telah diketahui, bahwasanya Al-Qur’an dan sunah rasul adalah pondasi utama dari agama Islam. Dan syari’at-syari’atnya berdiri di atas dua pondasi ini. Adapun Al-Qur’an adalah sebagai hukum dan metode. Sedangkan hadis adalah sebagai penjelas dan yang menerangkan kitab Al-Qur’an ini.[2]
            Adapun hikmahnya adalah Allah menciptakan Al-Qur’an ini sebagai penjelas yang senantiasa relevan dalam setiap tragedi kehidupan. Di dalamnya terkumpul berbagai informasi dan data-data, yang saling berdampingan dengan latar sosial-budaya yang berkembang pada zaman itu. Al-Qur’an ini pun bukan hanya dalil-dalil yang berupa penjelasan pada hal-hal yang bersifat ghaib saja. Namun juga menjelaskan tentang hal-hal yang bersifat dzahiriyah.[3]
            Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim mempunyai Al-Qur’an dalam di rumahnya. Di samping Al-Qur’an, setiap muslim juga harus berpegangan dengan sunah. Maka dari itu, sunah ini dapat dijadikan sebagai petunjuk, dan penjelas dari Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an tetap senantiasa menjadi kabar gembira dan petunjuk bagi agama Islam.[4]
            Adapun tujuan penulisan kitab Al-Wafi ini, sebagaimana yang dijalaskan oleh mushonifnya, adalah untuk memudahkan orang-orang muslim dalam dalam beragama. Dan memudahkan bagi setiap muslim untuk mempelajarinya. Kemudian dapat diperinci sebagai mana berikut:
1.      Meringkas hadis-hadis shohih, sehingga dengan ini dapat memberikan kemantapan bagi para pembaca atas kebenaran dari apa yang dibacanya, dan meminimalisir atas keraguan dalam membacanya.
2.      Ringkasan ini diringkas secara global dan rinci, yang memuat hukum-hukum Islam.
3.      Ringkasan inipun dimaksudkan agar mudah dicerna bagi para pengkajinya.[5]
Kemudian penjelasan (kitab Al-Wafi) ini diperoleh melalui pengkomparasian dari 2 kitab paling shohih, yakni kitab Shahih Bukhari dan Shohih Muslim.
Adapun latar belakang dari penamaan dari kitab ini adalah rasa cinta penulis yang mendalam terhadap orang-orang yang mencintai Al-Qur’an dan hadis-hadis shohih, yang mana tujuan akhirnya yakni untuk menjaga dalil atau nash dari orang-orang yang mempunyai pandangan benci terhadap hal-hal yang bersifat periwayatan.[6]

C.     Metode Penulisan
Penjelasan tentang bagaimana penulisan kitab ini, diterangkan sebagai berikut:
1.      Kebanyakan matan hadis yang dinukil oleh mushonif berasal dari satu sahabat, tanpa perubahan dan pertentangan di dalam matan tersebut. Maka dalam hal ini cukup disebutkan satu hadis saja.
2.      Banyak hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu sahabat saja, dan matannya memiliki makna atau ide yang sama, dimana matan tersebut kadang lengkap, kadang ringkas, maka dalam keadaan seperti ini dicukupkan untuk menyebutkan satu periwayatan yang lengkap.
3.      Sebagian hadis hanya berkutat pada satu makna saja. Dan banyak sahabat yang meriwayatkannya. Maka dipilihlah matan atau teks yang lebih komprehensif yang sesuai dengan kebutuhan. Seperti hadis tentang Isra’ Mi’raj, hadis tentang syafa’at. Kadang-kadang ditambahkan beberapa paragraf dari teks-teks yang lain. Dengan begitu, pembahasan akan menjadi sempurna.      
4.      Terkadang penyebutan makna hadis yang mana sahabat telah meriwayatkannya, mengandung apa yang telah diriwayatkan oleh sahabat lain. Maka cukuplah dengan hadis yang paling mencakup.
Demikian metode yang diterapkan oleh mushonif untuk menyusun kitab Al-Wafi ini.

D.     Sistematika Penulisan Kitab
Jumlah hadis yang di terdapat dalam kitab Al-Wafi ini berjumlah 1929 hadis. Kemudian dari sejumlah hadis tersebut ini dibagi atas 10 pembahasan utama (maqasid). Kemudian 10 pembahasan tersebut dibagi menjadi beberapa kitab. Kemudian dalam kitab tersebut terbagi kembali menjadi beberapa fashl.[7]
Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:
No.
Maqashid
Kitab
1
Aqidah
1.      Islam dan Iman
2.      Al-Iman bil Yaumil Akhir
3.      Al-Iman bil Qadar
2
Ilmu dan Sumber-Sumbernya
1.      Al-‘Ilmu
2.      Jam’ul qur’an wa fadhailihi
3.      At-Tafsir
4.      Al-I’tisham bis Sunah
3
Ibadah
1.      At-Thaharah
2.      Al-Adzan wa al-Mawaqitus Shalah
3.      Al-Masajid wa al-Mawadi’u Shalah
4.      Shifatus Sholah wa Fadhliha
5.      At-Tathawwu’ wa al-Witru
6.      Al-Imamah wa al-Jama’ah
7.      Al-Jama’ah wa al-‘Idani wa al-Kusufu wa al-Istisqa’u
8.      Qashru as-Shalati wa Jam’uha wa ahkamu as-Safari
9.      Al-Janaiz
10.  Az-Zakat wa as-Shadaqat
11.  Ash-Shaum
12.  Al-Hajju wa al-‘Umratu
13.  Al-Jihad fi Sabilillah
14.  Adz-Dzikru wa at-Taubah wa ad-Du’a
15.  Al-Iman aw an-Nudzur
4
Hukum Keluarga
1.      An-Nikahu
2.      Ar-Radha’u
3.      Ath-Thalaq wa Ahkamu Mufariqati az-Zaujah
4.      Al-Ahkamu al-Mauludi
5.      Al-Mirats wa al-Washaya
6.      Al-Birru wa al-Shillatu baina Afradil Usrati
5
Al-Hajat wa Al-Dhururiyah
1.      Ath-Tha’am wa as-Syarab
2.      Al-Libas wa az-Zinah
3.      Al-Thibbu wa ar-Ru’ya
4.      Ma Ja’a fi al-Buyut
6
Mu’amalah
1.      Al-Buyu’
2.      Al-Qardlu wa Al-Hiwalah
3.      Al-Muzara’ah wa Al-Ijarah
4.      Al-Hibatu wa al-Luqathah
5.      Al-Madzalimu wa al-Ghashbu
6.      Al-‘Itqu wa al-Mukatabah
7
Al-Imamah wa Syu’uni al-Hukmi
1.      Al-Imamatu al-‘Amatu wa Ahkamuha
2.      Al-Qadha’u
3.      Al-Jinayat wa al-Diyat
4.      Al-Hudud
8
Al-Raqaiqu wa Al-Akhlaqu wa Al-Adabu
1.      Al-Raqaiq
2.      Al-Akhlaqu wa Al-Adabu
9
Al-Tarikhu wa al-Siratu wa Al-Manaqib
1.      Al-Anbiya’
2.      Al-Sirah
3.      Al-Syama’ilu Al-Syarifah
4.      Al-Fadhailu wa Al-Manaqib
10
Al-Fitan
Tidak ada pembagian Kitab, namun dibagi dalam 12 bab. Mulai dari Bab:
Ikhbarun nabi bima yakunu hingga bab Dzikru al-Khawarij wa Shifatihim

Keterangan Tambahan
Untuk memudahkan sistematika penulisan kitab Al-Wafi, mushanif  melakukan beberapa hal berikut:
1.      Mushanif menomori setiap hadis dari awal hingga akhir secara urut.[8]
2.      Mushanif memberikan istilah dalam hadisnya, yakni:
a.       Jika dalam akhir hadis terdapat huruf ق , maka yang dimaksud adalah bahwa hadis tersebut disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (muttafaqun ‘alaih).
b.      Jika dalam akhir hadis terdapat huruf خ , maka yang dimaksud adalah bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
c.       Jika dalam akhir hadis terdapat huruf م , maka yang dimaksud adalah bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam  Muslim.[9]
3.      Mushanif memberikan tanda-tanda sebagai berikut:[10]
a.       ﴿ Dua tanda ini adalah tanda untuk ayat-ayat Al-Qur’an.
Contohnya adalah sebagai berikut:








b.      ( ) Dua tanda ini adalah tanda untuk sabda Rasulullah.
Contohnya adalah sebagai berikut:




c.       [ ] Sedangkan dua tanda ini adalah untuk selain keduanya
Contohnya adalah sebagai berikut


4.      Adanya sebuah penjelas, atau kutipan yang berupa footnote.
Contohnya adalah sebagai berikut.











5.      Terdapat Fihris, atau daftar isi yang dipaparkan oleh mushanif, guna untuk memudahkan pembaca dalam mencari hadis yang dikehendaki
E.     Kelebihan, Keunikan Kitab, dan Kekurangan Kitab
a.       Kelebihan dari kitab ini adalah:
1)      Penyusunan yang sangat sistematis, mulai dari penomoran, pembagian, dan tanda-tanda yang lain.
2)      Terdapat penjelasan dari mushonif terhadap kata-kata yang membutuhkan penjelasan yang berupa footnote.
3)      Pembahasan yang lengkap, bukan hanya dari sisi fiqih saja. Namun juga memuat tentang aqidah, adab, dan sebagainya.
4)      Kualitas hadis yang jelas shahih, karena diambil dari 2 kitab paling shahih, yakni Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
b.      Keunikan dari kitab ini adalah terdapat satu kitab yang berisi tentang tafsir, yang mana ayat Al-Qur’an ditafsirkan oleh hadis-hadis Nabi.
c.       Kekurangan dari kitab ini adalah:
1)      Pengambilan hadis hanya pada 2 kitab shohih, sehingga dalam kajian ilmunya kurang begitu kompleks, terlebih jika terdapat hadis-hadis fadhailul a’mal, maka dengannya akan semakin menambah wawasan dalam keilmuan hadis.
2)      Adanya penambahan-penambahan kata, yang ini jika dibandingkan dengan kitab hadis primer, maka akan berbeda.


[1] t.n,  2009, As-Syaikh Ahmad ibnu Shalih Asy-Syami, http://saleh.shami.me/?page_id=437, diakses pada 14 November 2016 pukul 22.10.
[2] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 5
[3] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 5
[4] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 6
[5] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 6
[6] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 7
[7] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 10
[8] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 12
[9] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 12
[10] Shalih Ahmad As-Syami, Al-Wafi bima fi As-Shohihain, (Beirut: Dar al-Syamiyah, 2007), hal. 12

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © _Cangkrukan Ilmu_ - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -